oleh

Nenek Pembuat Granat yang Turut Mengusir Penjajah Dari Tanah Air

INIKATA.com– Tidak hanya laki-laki yang memiliki militansi juang yang besar saat zaman penjajahan, Para perempuan Ngawi, Jawa Timur, juga ambil bagian dalam perjuangan melawan agresi militer Belanda.

Mbah tutut warga Desa Tepas, Geneng misalnya, dia terlibat dalam barisan juang pahlawab kemerdekaan, bahkan perannya bukanlah sebagai wanita yang menyajikan makanan bagi kaum pria, dia terlibat dalam pembuatan granat dan mortil di sebuah pabrik senjata di kompleks Pabrik Gula (PG) Soedono dekat rumahnya.

‘’Niatnya hanya ingin membantu perjuangan, karena menjadi bangsa terjajah itu tidak enak,’’ kata Mbah Tutut dalam bahasa Jawa, seperti dilansir JPNN, Kamis (17/8/2017).

Kala itu, tahun 1931. usia mbak tutut masih belasan tahun. Tidak hanya penjajah yang mencekal semangatnya kala itu, namun juga kecaman datang dari kedua orang tuanya, dia dilarang mengambil bagian dar situasi sulit itu, alasannya, dia seorang wanita.

Namun, Tutut memilih untuk tidak menggubrisnya. Dan tetap yakin langkahnya benar, kendati nyawa menjadi taruhan dan sewaktu-waktu bisa melayang begitu saja.

Selain nyawa, resiko terkecil yang dia hadapi adalah ditangkap oleh musuh.‘’Karena salah sedikit bisa meledak granatnya, jadi harus hati-hati betul,’’ tegasnya.

Di Pabrik pembuatan granat itu dia bekerja dengan puluhan orang. Kebanyakan muda-mudi lulus sekolah rakyat. Bekerja mulai kerja pukul 07.00 dan selesai pukul 15.00. Pekerjaannya mengisi bubuk mesiu ke granat ataupun mortir hingga siap pakai.

Sebuah peristiwa nyaris merenggut nyawanya. Saat salah satu teman pabriknya membuat kecerobohan, berniat memadatkan bubuk mesiu ke dalam granat malah menimbulkan ledakan hebat.

Lima orang cacat tetap pasca ledakan itu terjadi. Mulai buta, tangannya hancur dan masih banyak lagi. Sedangkan Tutut selamat.“Jarak saya hanya lima meter, tapi melihat ledakan langsung reflek meloncat ke balik jendela,’’ katanya.

Insiden itu tak hanya terjadi sekali atau dua kali. Cuaca di Ngawi yang relatif panas membuat ledakan granat ataupun mortir kerap terjadi. Tak heran, jika pengelola pabrik memilih untuk memindahkan lokasi pabrik itu ke Katerban, Dungus, Madiun.

‘’Sampai akhirnya pindah lagi ke Kediri karena dianggap lebih strategis. Tapi karena terjadi kisruh perang akhirnya buyaran dan pulang ke rumah,‘’ terangnya.(**)

Komentar

Topik Terkait