oleh

Kasus Dugaan Korupsi Lahan Bandara Mengkendek Jalan di Tempat

MAKASSAR, INIKATA.com– Hingga saat ini, kasus dugaan korupsi lahan Bandar Udara (Bandara) Mengkendek dengan kerugian mencapai puluhan miliar rupiah masih stagnan alias jalan di tempat. Meski sudah di Supervisi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hal ini diakui Kasubdit III Ditreskrimsus Polda Sulsel, AKBP Leonardo di depan awak media di Ruang Rapat Ditreskrimsus Mapolda Sulsel, Rabu (6/12/2017). Meski sudah beberapa tahun bergulir, kasus tersbut belum bisa dituntaskan.

Namun, AKBP Leonardo mengaku, tim penyidik Polda Sulsel akan mendatangi kembali lokasi Bandara Mengkendek untuk memenuhi petunjuk jaksa.

“Petunjuk Jaksa mesti perhitungan ulang. Jadi, besok, Tim penyidik Polda Sulsel, Kejaksaan dan BPKP akan ke lokasi Bandar Udara Mengkendek,” ungkapnya.

Namun, dengan berkunjung ke lokasi, bukan berarti masalah itu akan segera tuntas. Pasalnya, ada beberapa lahan yang sudah menang di tingkat Mahkamah Agung (MA).

“Beberapa sudah menang di MA. Jadi, kita tidak akan hitung dalam perhitungan kerugian negara,” pungkasnya.

Seperti diketahui, kasus dugaan korupsi pembebasan lahan Bandara Mengkendek bermula pada tahun 2011 dengan menggunakan APBD Tana Toraja sebesar Rp38,2 miliar.

Berdasarkan temuan hasil audit Badan Pengawasan Keuangan Pembangunan (BPKP) Sulsel ditemukan kerugian negara sekitar Rp 21 miliar.

Dua tahun kemudian, tepatnya April 2013, Polda Sulsel telah menetapkan Sekda Tana Toraja, Enos dan Camat Mangkendek, Ruben sebagai tersangka. Namun masa penahanannya habis, polisi melepaskan kedua tersangka.

Selanjutnya, polisi menetapkan 8 orang dari 9 orang yang tergabung dalam tim 9. Delapan orang telah ditetapkan tersangka, terdiri dari tiga pejabat aktif dan 3 pejabat nonaktif yang disebutkan tadi.

Dari keterangan seluruh tersangka, salah satunya yang pernah menjabat sebagai orang nomor satu di Tana Toraja berinisial TF bereran sebagai Ketua Tim 9 menentukan harga tanah negara seluas 141 Ha dengan perincian harga tanah Rp40.000 per meter dan sawah Rp25.000 per meter.

Anehnya, TF sebagai ketua tim 9 belum ditetapkan sebagai tersangka. Padahal tim 9 bekerja kolektif kolegial dan terjadi salah bayar ganti rugi lahan bandara Mangkendek.

Dalam penyidikan kasus dugaan Korupsi Bandara Mangkendek, sebanyak 62 warga telah dijadikan saksi dalam penerimaan dana pembebasan lahan. Selain warga, penyidik Polda Sulselbar juga sudah memeriksa saksi ahli dari BPN dan tim Apresial.(**)

Komentar

Topik Terkait