oleh

`Sindiran Untuk Janda di Status Facebook Korban Perselingkuhan Hingga Berujung Dimutilasi

INIKATA.com -Pernikahan Siti Saidah alias Sinox alias Nindy (21), korban mutilasi dan pembakaran oleh suaminya sendiri, M Kholil berlangsung sejak tahun 2015 lalu. Pertemuan keduanya, berawal dari sebuah jejaring sosial, Facebook.

Kala itu, korban merupakan warga Dukuh Sridonomulyo, Srikaton, Kayen, Pati ini, bekerja di sebuah diler motor di Semarang. Sedangkan, Kholil bekerja di pabrik tangki di Karawang. Keduanya pertama kali bertemu di Bandung, Semarang.

Kendati demikian, keduanya memutuskan untuk menikah secara sederhana di Kabupaten Pati. Mereka hidup bahagia di satu atap.

”Pernikahannya sederhana. Yang penting anak saya bahagia. Kholil ke Pati hanya membawa uang Rp 5 juta, tanpa membawa makanan atau seserahan,” kata ayah Nindy, Saryadi kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

Perjalanan hidup Nindy berubah setelah menikah. Putrinya itu, sempat cerita kepadanya. ”Pernikahan almarhumah awalnya bahagia. Namun, waktu Nindy hamil enam bulan, suaminya diduga selingkuh dengan mantan kekasihnya yang seorang janda di kontrakan,” ceritanya.

Dugaan perselingkuhan itu, sempat dijadikan status Facebook almarhum pada tanggal 20 Februari 2017 lalu. Pada status tersebut, Nindy menyindir kelakuan janda yang ditinggalkan suaminya dan kemudian kembali mengejar Kholil. Janda itu, dikatakan berkelakuan buruk dan suaminya yang lugu, namun mempunyai kelakuan buruk pula.

Meski demikian, saat itu ayah Nindy tetap menginginkan keduanya mempertahankan hubungan keluarga putri bungsunya itu. Hingga akhirnya Nindy tetap mempertahankan hubungan hingga dikaruniai satu putra.

Kemarin, kondisi putra almarhumah, Arvi Adam Lalana, 13 bulan, yang berada di rumah duka cukup baik. Dia tak rewel, saat ibunya dimakamkan. Arvi tetap bermain dengan keluarga almarhumah. Apalagi ada salah satu sepupu Nindy dari Gresik, Jatim, yang mirip dengan Nindy. Arvi sangat ”nempel” dengan sepupu yang merupakan sepupu almarhumah.

”Arvi akan kami asuh. Sebelumnya, selama tiga bulan diasuh besan saya di Bogor (orang tua pelaku, Red). Kemudian waktu ke Karawang (memastikan kemarian Nindy) saya ambil. Saya tak ingin cucu saya diasuh orang tua pembunuh yang membunuh anak saya,” imbuh pria yang berprofesi sebagai buruh tani ini.

Dia juga kecewa dengan pengakuan tersangka yang membunuh dengan keji karena Nindy menuntut macam-macam. Termasuk meminta mobil kepada pelaku. ”Seolah-olah anak saya itu bersalah karena matre,” katanya.

Setelah putrinya itu meninggal, dia mengetahui faktanya. Sebab, kakak Nindy cerita kepadanya. Kakak nomor dua korban itu, memang sering menjadi tempat curhat Nindy. ”Nindy ingin membeli mobil Brio dengan menjual sepeda motor Ninja yang dibelinya secara kredit sebagai DP,” katanya.

Pekerjaan terakhir almarhumah menjadi marketing Meikarta di Karawang dengan gaji Rp 5 juta. Itupun baru bekerja dua hari. Sebelumnya dia bekerja di perusahaan dengan gaji Rp 4 juta. ”Karena sudah bekerja dengan gaji lebih besar, Nindy berniat beli mobil karena yakin bisa ngangsur kredit,” ujarnya.

Apalagi suaminya juga bekerja dengan gaji Rp 4 juta. Tetapi, keinginan Nindy tak direstui suaminya. Alhasil, mereka sering cekcok. Hingga diduga korban sempat meminta cerai sepekan sebelum pembunuhan tragis itu.

”Saya juga terpukul karena beredar isu anak saya janda sebelum dinikahi Kholil dan meminta mahar banyak saat menikah. Padahal anak saya masih gadis. Waktu dinikahi, tersangka hanya bawa uang Rp 5 juta,” bebernya.

Dia mengaku, semua tuduhan yang diarahkan ke almarhumah membuatnya sakit hati dibanding pembunuhan terhadap anaknya. Padahal, saat bertemu dengan menantunya di Polres Karawang, ia hanya menepuk pundak menantunya sambil memafkan. ”Kholili sempat meminta maaf. Saya maafkan sambil menepuk pundaknya. Saya juga berpesan setelah keluar penjara agar jadi orang yang lebih baik,” pungkasnya. (Jawa Pos)

Komentar

Topik Terkait