oleh

Piala Dunia 2018: Lukaku Merasa Kurang Dihargai Belgia, Ada Apa?

INIKATA.com — Dua gol Romelu Lukaku dalam laga Belgia vs Panama di Fisht Stadium, Senin (18/6) malam sukses memperbesar keunggulan tim berjuluk Rode Duivels itu, dalam laga debut Panama di Piala Dunia 2018. Skor 3-0 untuk kemenangan skuat asuhan Roberto Martinez.

Kendati sudah cukup terbilang sukses sebagai pesepak bola, khususnya ketika diboyong Manchester United dari Everton dengan banderol 75 juta poundsterling atau setara 1,4 triliun rupiah satu musim lalu, dan bermain bagus untuk Belgia di laga persahabatan dan khususnya laga pembuka Piala Dunia Rusia, pesepak bola 25 tahun itu mengaku, merasa kurang dihargai sebagai pesepak bola oleh orang-orang di negaranya sendiri, terlebih di awal-awal karirnya.

“Jika Anda tidak tahu bagaimana susahnya hidup saya dulu, maka Anda tidak akan pernah bisa mengerti saya,” tulis penyerang Setan Merah itu dalam The Players Tribune yang dikutip BBC Sport, Selasa (19/6).

“Ketika saya bergabung dengan Chelsea dulu dan tidak dimainkan (oleh manajer), saya mendengar bagaimana mereka menertawakan saya. Ketika saya dipinjamkan ke West Brom, mereka juga menertawakan saya. Namun tak mengapa, orang-orang itu tidak melihat bagaimana (keluarga) kami menuangkan air ke dalam cereal (ketimbang susu),” kenang pemain bernama lengkap Romelu Menama Lukaku Bolingol itu.

Dalam jurnal yang mengisahkan perjuangan hidupnya itu, pemain bernomor punggung sembilan tersebut mengaku sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan oleh orang-orang di sekitarnya.

“Ketika itu saya berusia 11 tahun, saya bermain untuk tim muda Lierse dan salah satu dari orang tua tim lawan berusaha untuk menghentikan saya turun ke lapangan. Dia berkata, ‘berapa usia anak ini (saya)? Mana KTP-nya? Dari mana asalnya?’,” ungkapnya pemain bertinggi badan 191cm itu.

Ia juga menceritakan bagaimana perlakuan media ketika dirinya sukses menjadi salah satu penyerang yang diakui dunia. “Koran-koran menyebut saya sebagai ‘Romelu Lukaku, Striker Belgia’, (namun ketika performanya menurun) mereka memanggilku dengan sebutan ‘Romelu Lukaku, Striker Belgia keturunan Kongo’,” terang Lukaku yang mengawali karir sepak bola profesionalnya bersama Anderlecht.

Kendati demikian, lukaku yang berhasil mengemas 27 gol dalam musim debutnya di Old Trafford dan dua gol di ajang Piala Dunia 2014 di Brazil itu, mengaku tidak mau berlama-lama hidup dalam kemarahan. Bersama dengan sang adik, Jordan Lukaku, pemain Lazio yang juga dipanggil untuk membela Belgia, dirinya ingin menikmati momen indah dalam karir profesionalnya itu tanpa harus melihat ke belakang lagi.

“Dua anak dari satu rumah yang sama (dirinya dan Jordan), dibesarkan dalam kondisi yang sama, berhasil jadi orang. Kali ini, saya akan menikmati bermain (di Piala Dunia 2018). Hidup ini terlalu singkat untuk memikirkan (masa lalu),” kata pemain yang bermimpi sebagai pesepak bola terbaik Belgia itu. (Inikata/FIN)

Komentar

Topik Terkait