oleh

Berikut Tiga Daerah di Sulteng yang Diusulkan Untuk Dijadikan Pemakaman Massal

INIKATA.com — Muncul usulan untuk menjadikan daerah Balaroa, Petobo Kota Palu, serta Jono Oge Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng) sebagai lokasi pemakaman korban bencana.

Usulan itu disampaikan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam rapat koordinasi yang dipimpin oleh Gubernur Sulteng Longki Djanggola beberapa waktu yang lalu.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, berdasarkan laporan lisan Kepala Desa Balaroa maupun Petobo, diduga masih ada 5 ribu warganya yang masih dinyatakan hilang.

“Berapa aslinya kita belum dapat memastikan. Karena ada sebagian yang mengungsi, ada yang keluar Palu dan sebagainya,” katanya di Kantor Pusat BNPB, kawasan Rawa Mangun, Jakarta Timur, Jumat (9/10).

Namun dia tidak menampik masih banyak pula warga yang masih terkubur di kedua lokasi itu. Makanya, proses pencarian pun masih terus dilakukan hingga Kamis, tanggal 11 Oktober 2018 nanti. Tim juga akan menghentikan proses pencarian di Jono Oge Kabupaten Sigi.

“Jono Oge kabupaten Sigi. Kondisi lumpurnya masih basah. Untuk evakuasi masih berat,” jelasnya.

Rapat yang berlangsung di Palu itu dihadiri oleh Kepala Posko Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) Mayjen TNI Tri Suwandono, Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Brigjen Pol Ermi Widyatno, perwakilan BNPB, perwakilan Badan SAR Nasional (Basarnas), Bupati Kabupaten Sigi Irwan Lapata, Walikota Palu Hidayat, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat, Lurah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Disana tokoh agama dan tokoh masyarakat mengusulkan agar setelah proses pencarian dihentikan, maka nantinya daerah-daerah tersebut akan dijadikan sebagai pemakaman massal.

“Para tokoh agama dan tokoh masyarakat menyampaikan agar dipertimbangkan tidak melanjutkan evakuasi. Lokasi diusulkan menjadi tempat penguburan massal,” beber Sutopo.

Dikatakannya juga tokoh agama dan masyarakat juga mengusulkan agar warga desa yang selamat dibangunkan tempat tinggal sementara, untuk kemudian diberi tempat tinggal tetap di lokasi yang aman oleh pemerintah setempat.

Bagai gayung bersambut, usulan tersebut mendapat respons positif dan menjadi sebagai salah satu kesimpulan rapat.

“Selanjutnya lokasi BTN Balaroa, Petobo, dan Jono Oge akan ditutup dan dijadikan ruang terbuka hijau, serta menjadi taman memori atau tempat bersejarah dan akan dibangun monumen pada lokasi tersebut,” ujar Sutopo menjelaskan salah satu kesimpulan rapat.

Masa tanggap darurat tahap pertama akan berakhir tepat pada 11 Oktober 2018. Para pemangku kepentingan pun sudah berencana untuk melangsungkan doa bersama bagi korban yang masih belum ditemukan.

“Pada hari terakhir Tanggap Darurat (tahap I) akan dilakukan doa bersama di lokasi tersebut,” pungkasnya. (Inikata/RMOL)

Komentar

Topik Terkait