oleh

Minat Baca Buku Menurun, Lebih Menarik di Gawai?

INIKATA.com – Penggunaan gawai atau gadget yang dilakukan hampir semua kalangan berpengaruh dalam menurunkan minat membaca buku, khususnya para pelajar.

Itu karena alat praktis yang berbau teknologi ini membius para pelajar karena memiliki banyak fitur mempermudah dalam berselancar mencari informasi, referensi, bahkan games.

Lantas mana yang lebih efisien? Buku atau gawai?

Pelajar

Menurut Hamdan Dewa, pelajar asal Desa/Kecamatan Kedungwaru, membaca dapat menghasilkan manfaat yang banyak. Sebab, dengan ilmu-ilmu yang sering dibaca, menambah wawasan menjadi lebih luas.

Meski demikian, Hamdan akui lebih praktis membaca melalui gadget. Sebab, dengan mudah memilih tema atau materi yang ingin dibaca. Selain itu, pembaca juga bisa mengakses dan membaca informasi tersebut di mana pun berada.

“Lebih praktis baca buku di gagdet. Karena dengan mudah kita mencari informasi yang dibutuhkan. Beda dengan buku yang harus mencari dari satu buku ke buku lainnya,” katanya

Remaja berusia 17 tahun ini menjelaskan, sebagian orang berpendapat bahwa buku itu terkesan ketinggalan zaman dan tidak praktis. Belum lagi dengan tebal yang sampai ratusan halaman, membuat orang enggan membacanya.

Meski begitu, diakuinya dengan membaca buku akan memberikan manfaat banyak bagi perubahan diri. Sedikit banyaknya, pasti ada beberapa pertanyaan dalam sebuah buku yang secara tidak langsung sudah membentuk pola pikir baru. Membaca buku akan melatih logika berpikir. “Sebenarnya banyak manfaat jika kita langsung baca di buku. Hanya saja, yang lembarannya cukup banyak membuat orang malas,” jelasnya

Hal senada juga diungkapkan salah seorang wali murid, Yusuf. Dia mengatakan, banyak manfaat yang didapat dari membaca. Sebab, membaca mampu memberikan pengetahuan. Baik buku maupun melalui gawai, jika sering berselancar mencari informasi maupun materi, akan memberikan manfaat tersendiri.

Berbeda dengan memperkenalkan gawai yang hanya digunakan untuk bermedia sosial maupun bermain. Itu akan memberikan dampak negatif karena anak-anak maupun remaja akan lebih memanfaatkan gawai untuk bermain games saja.

“Ya, memperkenalkan gawai ke anak-anak harus sambil diawasi. Tidak seperti remaja yang mulai memiliki pola pikir dewasa. Anak-anak harus dibina agar tahu manfaat dari gawai,” jelasnya.

 

Dosen  Microteaching

Di sisi lain, Siswo Subagyo, dosen microteaching STKIP Tulungagung mengatakan, sejak dini memang perlu diperkenalkan buku bacaan. Namun harus disesuaikan dengan usia.

Maka dari itu, lingkungan keluarga harus membuat komitmen dalam mengajak membaca. “Lingkungan keluarga juga harus sama-sama membaca. Tidak hanya menyuruh membaca, tetapi bersama-sama dalam keluarga,” katanya

Apalagi, lanjut pria yang juga menjadi guru di SMAN 1 Tulungagung ini, masalah yang masif di kalangan anak-anak terkait membaca yakni pemanfaatan gawai dalam bermedsos. Penggunaan medsos harus di bawah pengawasan orang tua.

Penggunaan gawai harus diatur waktunya. Orang tua harus tegas dan sekaligus memberikan contoh penggunaan gawai. Saat jam belajar, sebisa mungkin dibiasakan membaca buku sebagai penguatan literasi.

“Secara teori mudah, tetapi memang harus komitmen yang kuat dan konsisten untuk melaksanakannya,” tandasnya. (Inikata/jpc)

Komentar

Topik Terkait