oleh

Jejak Teroris MIT Ali Kalora Tercium di Poso, Satgas Tinombala Temukan Korban Mutilasi

INIKATA.com Satuan Tugas Operasi Tinombala mendeteksi keberadaan jaringan teroris kelompok Mujahid Indonesia Timur, dipimpin Ali Kalora.

Mereka terdeteksi di jalur batas antara Poso dan Parigi Montong.

“Temuan yang didapat oleh satgas cukup banyak jejak-jejak yang ditinggalkan Ali Kalora,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Senin (25/2).

Dalam pengejaran itu, satgas menemukan jejak antara lain beberapa pakaian dan peralatan seperti alat penerangan, komunikasi dan memasak yang ditinggalkan oleh kelompok Ali Kalora.

“Ini semua sudah disita oleh satgas,” ujar Brigjen Dedi.

Selain itu, satgas juga telah mempersempit ruang gerak dengan memitigasi jalur distribusi logistik. Di samping itu, upaya persuasif juga terus dilakukan melalui pendekatan keluarga dari kelompok tersebut.

“Kami selalu mengimbau kepada keluarga apabila ada komunikasi dengan para kelompok MIT pimpinan Ali Kalora untuk menyerahkan diri, karena perbuatan Ali Kaora melawan hukum dan harus bertanggung jawab,” pungkas Brigjen Dedi.

Kepolisian sebelumnya mengultimatum Ali Kalora Dkk untuk menyerahkan diri sebelum tanggal 29 Januari 2019. Ultimatum itu salah satunya ditulis dalam selebaran yang disebar melalui udara di wilayah pegunungan biru, Sulawesi Tengah yang disinyalisasi sebagai tempat persembunyian mereka.

Jika tidak kunjung menyerahkan diri hingga waktu yang ditentukan, Satgas Tinombala akan melakukan operasi penyerbuan ke sarang pimpinan Ali Kalora.

Ali Kalora Dkk menjadi sorotan publik setelah aksinya membunuh dan memutilasi warga di Desa Salubanga, Sausu, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah pada 31 Desember 2019. Diduga aksi tersebut untuk mengundang aparat kepolisian mendatangi lokasi.

Esoknya, mereka menembaki petugas kepolisian yang tengah olah TKP dan mengevakuasi jasad korban mutilasi. Dua anggota mengalami luka tembak akibat peristiwa tersebut.

Kontak tembak antara petugas dan kelompok teroris sempat berlangsung sekitar 30 menit. Mereka kemudian melarikan diri ke wilayah pegunungan di perbatasan Kabupaten Parigi Moutong dan Poso. Hingga saat ini, pengejaran terhadap mantan anak buah Santoso alias Abu Wardah itu terus berlanjut. (Inikata/rmol)

Komentar

Topik Terkait