oleh

DI Zaman Serba Digital, Sistem Pendidikan Indonesia Masih “Kampungan”

INIKATA.com Sistem pendidikan di Indonesia saat ini memang belum mampu menjawab perkembangan zaman.

Terlalu fokusnya sekolah dan orang tua ‘memaksa’ anak-anak untuk menguasai kemampuan skolastis seperti membaca, berhitung, matematika, bahasa Inggris, membuat mereka lupa mengimbangi dengan pendidikan karakter sebagai bangsa Indonesia.

Karena itu, sistem pendidikan yang ada sekarang harus reformasi total untuk membangun generasi bangsa yang lebih beradab.

Hal ini disampaikan Ketua Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Siti Musdah Mulia di Jakarta.

Menurut Musdah, untuk menanamkan pendidikan karakter harus dimulai dari pendidikan calon orang tua (parenting education) sebelum menikah.

“Artinya, para calon orang tua harus mendapatkan bimbingan intensif bagaimana mendidik anak di masa serba digital seperti sekarang,” terangnya.

Mereka juga harus diberi wawasan kebangsaan dan pendidikan agama yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan adanya parenting education ini, harap Musdah, para orang tua menjadi lebih siap dan paham bagaimana mendidik anak, baik saat di rumah maupun di sekolah. Bersamaan dengan itu, pendidikan sekolah harus lebih kuat membangun aspek karakter dengan mengutamakan nilai-nilai, bukan mengajarkan teori semata

“Guru harus terlebih dulu memberikan contoh teladan. Karena itu perlu ada semacam reformasi total dalam pelaksanaan pendidikan mulai dari tingkat bawah sampai tinggi,” imbuh Gurubesar UIN Syarif Hidayatullah ini.

Ia menjelaskan, pendidikan termasuk pendidikan via media harus menjadi institusi utama dalam membangun moral bangsa. Selain itu juga harus ada upaya melakukan seleksi ketat terhadap konten media, terutama di media sosial (medsos).

Untuk itu, Musdah mengatakan, para pemimpin negara dan elit politik harus menjadi contoh teladan. Pasalnya, ucapan dan perilaku di muka publik harus mengutamakan nilai-nilai Pancasila dan sejalan dengan prinsip Hak Asasi Manusia (HAM).

“Kalau pemimpinnya beradab maka keputusan-keputusan yang dihasilkan, pasti akan lebih beradab, terutama dalam membangun karakter bangsa yang ber-Pancasila,” jelasnya.

Musdah juga menyarankan, selain pendidikan karakter sejak kecil, masyarakat sipil khususnya pemuda dan remaja juga perlu diberikan pendidikan politik yang berorientasi nillai-nilai spiritual yang humanis dan pluralistik.

Selanjutnya, para pemimpin agama harus didorong untuk mensosialisasikan interpretasi agama yang akomodatif terhadap nilai-nilai Pancasila dan kemanusiaan, serta menolak semua bentuk diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan, apa pun alasannya.

“Kalau itu dijalankan dengan baik, InsyaAllah, kita akan memiliki generasi bangsa yang beradab dan berkualitas,” pungkas Musdah Mulia. (Inikata/Rmol)

Komentar

Topik Terkait