oleh

Dampak Perang Dagang, China Turunkan Pajak dan Target Konjungtur

INIKATA.com – China menurunkan target pajak dan pertumbuhan ekonomi signifikan. Sebab, lesunya konjungtur global dan dampak perang dagang dengan AS. Hal ini mulai terasa dampaknya.

PM Li Keqiang mengumumkan penurunan pajak dan target pertumbuhan ekonomi dalam Kongres Rakyat Nasional di Beijing. Targetnya, China hanya pada kisaran 6,0 sampai 6,5 persen.

Sebelumnya ekonomi China mengalami booming dengan pertumbuhan dua digit. Tapi di tahun 2018, ekonominya hanya tumbuh sekitar 6,6 persen saja. Hal itu menjadi tingkat konjungtur paling lemah dalam 30 tahun terakhir. Situasi makin berat karena permintaan domestik juga ikut turun drastis.

Hubungan dagang antara China dengan Amerika serikat kian memburuk pasca Donald Trump mematok tarif baru. Sekitar setengah dari seluruh produk impor Tiongkok dalam upaya untuk memaksa konsesi perdagangan. Namun, Trump telah menyuarakan keyakinannya bisa segera mencapai kesepakatan dengan presiden China, Xi Jinping.

Situasi rumit dan parah

“Keadaan yang dihadapi Cina saat ini lebih rumit dan lebih parah. Ke depan, akan lebih banyak risiko dan tantangan yang mampu diprediksi atau tidak. Kita harus bersiap menghadapi gempuran (ekonomi) ini,” kata Li dalam pidatonya dalam Kongres Rakyat Nasional Cina di Balai Agung Beijing.

Menurut PM Cina itu, kebijakan ini dapat memperkuat kondisi fiskal Cina, dengan pemotongan yang direncanakan hampir 2 triliun Yuan ($ 298,31 miliar) atau setara Rp 4.222 triliun untuk pajak dan biaya perusahaan. Pemotongan ini lebih besar ketimbang tahun 2018 yakni 1,3 triliun Yuan, dimana pemotongan ini bertujuan untuk mendukung sektor manufaktur, transportasi, dan kontruksi.

PPN Sektor Manufaktur Diturunkan Menjadi 13 Persen dari Pajak

Pajak pertambahan nilai (PPN) sektor manufaktur diturunkan dari 16 persen menjadi 13 persen dan pajak untuk transportasi serta konstruksi diturunkan menjadi 9 persen dari yang sebelumnya yakni 10 persen.

Menurut ekonom Cina, Iris Pang, langkah yang dilakukan pemerintah di Baijing untuk meningkatkan stimulus fiskal itu, hanyalah manuver jangka pendek. “Alih-alih memperkuat pertumbuhan ekonomi, ke depan kekhawatiran akan lesunya pertumbuhan ekonomi akan terus mengancam. Jika Anda tidak sakit, Anda tidak akan minum begitu banyak obat dalam satu waktu. Ini berarti badai belum berlalu,” ujar Iris.

Penerbitan obligasi khusus

Selain itu Kementerian Keuangan Cina juga menambah kuota penerbitan obligasi khusus untuk pemerintah daerah senilai 2,15 triliun Yuan ($ 320,79 miliar) dari 1,35 triliun Yuan tahun lalu, untuk mendukung investasi infratruktur dan mendanai proyek-proyek utama.

Tahun ini pemerintah juga telah menetapkan target defisit anggaran sebesar 2,8% dari PDB, naik dari tahun lalu yang sebesar 2,6%, yang mencerminkan penerimaan pajak yang lebih rendah dan pengeluaran pemerintah yang lebih tinggi.Di sepanjang tahun 2018, bank sentral Cina juga telah memotong cadangan persyaratan untuk pemberi pinjaman komersial sebanyak lima kali untuk memacu pinjaman perusahaan kecil dan perusahaan swasta. Langkah ini dinilai sangat vital untuk pertumbuhan ekonomi dan penambahan lapangan pekerjaan.

Pemerintah Cina juga telah menetapkan target inflasi konsumen sekitar 3%, meskipun adanya penurunan harga baru-baru ini membuat angka tersebut mengalami kenaikan kurang dari 2%.

Semua langkah ini diyakini PM Li akan kembali memperkuat perekonomian Cina, menurunkan biaya-biaya, mempermudah kegiatan bisnis, dan membuka belasan juta lowongan pekerjaan baru. (**/Fajar)

Komentar

Topik Terkait