oleh

Sejarah Dibalik Penembakan Brutal: Dari Utsmaniyah, Ottoman & Pelecahan Anak

INIKATA.com– Sejarah perebutan kekuasaan dan isu rasial disinyalir menjadi salah satu penyebab, bagi Brenton Tarrant dalam melakukan aksi penembakan brutal, di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3/2019).

Dugaan itu menguat pada coretan tinta putih yang menghiasi senjeta Brenton. Beberapa coreten bertuliskan nama pelaku aksi rasial. Seperti Bissonnette, yang merupakan seorang pria yang kini dijatuhi hukuman 40 tahun.

Bissonnette didakwa telah melakukan penembakan di sebuah masjid di Quebec pada 2017 lalu. Akibat Insiden itu 6 orang dinyatakan tewas.

Juga ada nama Traini, yang merupakan seorang pria berkebangsaan Italia. Traini kini menjalani hukuman 12 tahun penjara, karena melakukan penembakan terhadap enam imigran asal Afrika, serangan pada Oktober tahun lalu itu bermotif rasial.

Coretan tinta putih itu juga menyebut Rotherham yang hingga kini belum diketahui pasti motif Brenton menulis kata Rotherham. Namun, kata Rotherham merujuk pada sebuah kota di Inggris.

Di Rotherham, eksploitasi seksual terhadap 1.400 anak pernah terjadi pada akhir 1980-an, 1990-an dan 2000-an, yang diduga dilakukan oleh oleh pria Inggris keturunan Pakistan, yang dikenal di wilayah itu sebagai kelompok Asia Selatan terhadap warga ‘kulit putih’.

Namun, aparat setempat terkesan mendiamkan kasus tersebut, padahal banyak warga yang merasa risih dengan kejadian itu. Alasan Pemerintah Inggris tak ingin dianggap rasis, ketika menangkap pelaku yang berasal dari kelompok Asia Selatan.

Brenton dan Supremasi Kulit Putih

Brenton sendiri menulis sebuah manifesto alias pernyataan sikapnya di internet sebelum melakukan aksi tak manusiawinya. Judulnya, ‘The Great Replacement’.

“Hanya seorang pria kulit putih biasa, 28 tahun,” demikian tertera dalam manifesto yang ia tulis,

“Lahir di Australia dari keluarga kelas pekerja, berpenghasilan rendah. Orang tua saya keturunan Skotlandia, Irlandia dan Inggris. Saya memiliki masa kecil yang teratur, tanpa masalah besar.”

“Aku hanya pria kulit putih biasa, dari keluarga biasa, yang memutuskan mengambil sikap untuk memastikan masa depan bagi orang-orangku.”

orang-orangku yang ia maksud adalah warga kulit putih. Namun masih ada banyak dalih yang ia utarakan di balik pembantaian yang dilakukannya, dari balas dendam hingga supremasi kulit putih.

Sejarah Pertempuran Utsmaniyah

Milos Obilic, juga merupakan sebuah nama yang tertulis di senjata Brenton. Obilic merupakan seorang ksatria yang menonjol dalam Pertempuran Kosovo 1389, saat melawan Kekaisaran Utsmaniyan yang adidaya saat itu.

Perang ini dipimpin oleh Pangeran Serbia, Laza Hrebeljanovic, dan Kesultanan Utsmaniyah dipimpin Sultan Murad Hudavendigar.

Dalam peperangan ini, sebagian besar pasukan dari kedua belah pihak tewas dalam pertempuran. Bahkan, baik Lazar maupun Murad juga kehilangan nyawa dalam pertempuran tersebut.

Walau pihak Utsmaniyah berhasil merebut pasukan Serbia, namun mereka menunda perkembangan ekspansi mereka akibat kehilangan banyak tentara.

Sementara, pihak Serbia menyisahkan terlalu sedikit orang yang dapat mempertahankan tanah mereka. Hingga satu demi satu pangeran Serbia menjadi turut dan bergabung pada kesultanan Utsmaniyah.

Pertempuran Ottoman

Di senjata Brenton Juga tertulis ‘1571’, yang diketahui merujuk pada Pertempuran Lepanto. Peperangan ini merupakan peperangan yang berakhir dengan kekalahan telak Kesultanan Ottoman.

Coretan tinta putih di senjata itu juga menulis sebuah referensi untuk Pertempuran Wina yang terjadi pada tahun 1683. Saat itu pasukan Austria dan Polandia memukul mundur tentara Ottoman.

Pertempuran ini melibatkan tiga negara, antara lain Austria yang bergabung dengan Polandia, dan Kerajaan Ottoman yang terjadi tepat pada tanggal 12 September 1683.

Peperangan itu berawal saat ibu kota Austria, Wina dikepung oleh tentara Ottoman selama dua bulan lamanya. Ottoman bahkan nyaris berhasil menguasai wilayah tersebut.

Namun, kaisar Austria kemudian mendapat bantuan dari Polandia sehingga kepungan tentara Ottoman bisa dilawan dan mereka terpaksa mundur dari medan pertempuran.

Pasukan Austria dari dinasti Habsburg berjumlah 100.000 orang dan sekutu mereka yang dipimpin Charles IV (Duke of Lorraine), 30.000 tentara yang dipimpinan Jan III Sobieski. Jan III merupakan Raja Persemakmuran Polandia-Lithuania.

Pasukan inilah yang memukul mundur 140.000 pasukan Ottoman yang kala itu dipimpinan Wazir Merzifonlu Kara Mustafa Pasha.(diolah dari berbagai sumber)

Komentar

Topik Terkait