oleh

Bamsoet Tuding Uni Eropa Diskriminasi Sawit Indonesia

INIKATA.com – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo sangat menyesalkan keputusan Uni Eropa yang terkesan mendiskriminasi kelapa sawit sebagai minyak nabati.

Uni Eropa memang saat ini mengadopsi Renewable Energy Directive II (RED II), dimana menurut Bambang, dalam aturan turunannya ada unsur yang mendiskriminasi kelapa sawit sebagai minyak nabati.

Tindakan tersebut menurutnya tidak mencerminkan selayaknya mitra stategis yang membangun hubungan baik dan saling menguntungkan.

“Uni Eropa merupakan salah satu mitra strategis Indonesia. Namun sayangnya proses adopsi legislasi RED II dan aturan turunannya didasarkan pada analisis ilmiah yang cacat, mengabaikan kritik yang datang dari internal Uni Eropa dan lembaga independen. Serta mengabaikan concern dan data-data yang disampaikan oleh negara-negara produsen kelapa sawit,” tegas Bamsoet sapaan akrabnya, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (26/3).

Keputusan Uni Eropa Bukan untuk Melindungi Pelestarian Lingkungan

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia ini menilai Uni Eropa secara jelas telah mengabaikan upaya pembangunan, peningkatan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan di negara produsen minyak kelapa sawit.

Bahkan dengan tegas menurutnya concern Uni Eropa terhadap kelapa sawit saat ini bukan lagi untuk pelestarian lingkungan.

Melainkan sebagai upaya proteksi terselubung melindungi produk minyak nabati mereka yang daya saing dan produktivitasnya jauh lebih rendah daripada minyak kelapa sawit.

“Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan Indonesia karena berkontribusi pada penyerapan lebih dari 19,5 juta tenaga kerja, termasuk di dalamnya 2,6 juta smallholders yang mempekerjakan 4,3 juta individual, penghasil devisa negara mencapai USD 21,4 miliar pada tahun 2018, sumber energi terbarukan (biodiesel) serta bagian dari upaya pengentasan kemiskinan yang menjadi prioritas utama dari Sustainable Development Goals (SDGs),” papar Bamsoet.

Bamsoet Minta Pemerintah Indonesia Bersikap

Olehnya Bamsoet meminta Pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah tegas, termasuk mengadukan RED II dan Delegated Regulation ke World Trade Organization (WTO).

“DPR RI juga mendukung pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah tegas, termasuk mengadukan RED II dan Delegated Regulation ke World Trade Organization (WTO) dan langkah lain yang diperlukan,” tandas Bamsoet.

Berkaitan dengan isu sawit, Legislator Dapil VII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen ini menerangkan, DPR RI melalui Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) telah melakukan peran diplomasi dengan mengadakan serangkaian pertemuan dengan parlemen Uni Eropa. Sehingga bisa mencari penyelesaian yang terbaik bagi kedua belah pihak.

“DPR RI juga mendesak Parlemen Eropa bisa secara komprehensif melihat dimensi keberlanjutan sebagaimana tertuang dalam Sustainable Development Goals 2030 dan tetap bijak serta adil dalam mengambil kebijakan yang akan berdampak pada hubungan baik kedua negara,” pungkas Bamsoet. (**/rmol)

Komentar

Topik Terkait