oleh

Oknum Polisi di Makassar Diduga Tembak Siswa SMP Hingga Tewas

MAKASSAR, INIKATA.com – Bocah lulusan SMP, SS (16) diduga menjadi korban penembakan liar oleh Satuan Perintis Polrestabes Makassar, Minggu (12/5/2019) lalu.

Dengan luka tembak di bagian kepala kiri bawah, ia dinyatakan meninggal pada Rabu (15/5/2019) sore di RS Bhayangkara, Makassar.

AM selaku kakak korban sekaligus saksi kejadian mengisahkan penembakan tersebut. Ia mengatakan, pada Minggu subuh, korban bersama seorang temannya menjemputnya di rumah. Dengan berbonceng tiga, mereka mengendarai motor menyusuri Jalan Cendrawasih bersama dengan konvoi motor lain. AM lah yang mengendarai motor, korban berada ditengah sementara temannya duduk di belakang.

Tak cukup lama berkendara, mereka melihat polisi dari arah depan. Dari pernyataan AM, polisi tersebut memakai motor KLX dengan perlengkapan lengkap. AM menyakini polisi tersebut adalah Satuan Perintis. Namun saat ditanya perihal jumlah anggota Perintis, ia mengaku tak tahu.

Konvoi motor lain pada berhamburan, ia juga segera berbalik arah lantas menuju rumah tantenya di Jl. Baji Minasa. Ia mengaku kecepatan motor saat itu sekitar 60-70 km/jam. Awalnya ia tidak mengetahui bahwa mereka dikejar oleh satu motor satuan Perintis. Namun, temannya memperingatkannya untuk menambah kecepatan motor sebab sudah ada polisi yang mengejar. Kata AM saat itu hanya ada dua polisi dengan mengendarai satu motor berada dibelakangnya.

Tak cukup lama setelah berbelok, terdengar suara tembakan dari arah belakang. Kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 06.30. Awalnya AM menghiraukan suara tembakan. Ia mengira tembakan itu diarahkan ke atas. Namun temannya langsung panik, temannya meminta untuk menambah kecepatan motor, sebab temannya melihat korban sudah berdarah di bagian kepala.

“Balap cepat motor mu, kena tembakan adikmu,” ujar AM menirukan seruan temannya.

“Pas saya balik, saya lihat mi darah, saya bilang ke temanku, ‘pegang adekku, pegang adekku’”, ucapnya saat ditemui dirumahnya, Rabu (15/5/2019) malam.

AM pun segera menambah kecepatan karena takut akan ada penembakan lagi. Ia sempat menanyakan kepada temannya perihal keberadaan polisi tersebut, namun pengakuan temannya, polisi yang mengejarnya langsung berbelok arah setelah penembakan.

“Kalau motor itu, motor KLX, hitam-hitam dua, temannya yang gandeng ki, baru itu temannya di belakang yang menembak,” ucapnya.

Saat ditanya jarak mereka dan polisi saat penembakan berlangsung, AM tak tahu jelas. Ia hanya mengatakan jaraknya dekat.

Pengakuan AM, polisi yang mengejarnya sebelum menembak sama sekali tidak memberikan peringatan apapun, baik berupa teriakan ataupun klakson. Peringatannya hanya berupa tembakan di kepala.

“Tidak ada pak, tidak ada,” saat ditanya perihal peringatan dari polisi.

Setiba di rumah tantenya, AM bersama temannya segera membawa korban ke RS Bhayangkara dengan mengendarai pete-pete. Di sana korban segera mendapat perawatan dari tim medik.

Selama tiga hari perawatan, korban setengah sadar. Kata AM, korban tidak merespon suaranya. Saat ditanya mengenai keterangan dokter perihal penyebab kematian korban, AM mengaku tak tahu. Pengakuannya, dokter tak memberikan memberikan alasan yang detail.

Dari foto korban yang diperlihatkan AM, terdapat beberapa luka jahitan di bagian kiri telinga. Tak jelas jumlah jahitannya. Selain itu, dibagian kiri kepala korban, dekat telinga kirinya, terdapat bekas luka tembakan. Dari bekas tersebut diduga korban ditembak menggunakan peluru karet.

Pihak keluarga sebenarnya sudah melaporkan kejadian tersebut ke Polrestabes Makassar pada Minggu (12/5/2019) lalu, beberapa jam setelah kejadian penembakan. Namun dari pengakuannya, jawaban dari Polrestabes ‘akan di proses’. (Run)

Komentar

Topik Terkait