oleh

Tanaman Hortikultura Rentan Terdampak Kemarau Panjang, Bawang Merah Tetap Subur?

INIKATA.com – Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kemarau panjang akan terjadi puncaknya pada Agustus 2019.

Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih lama dan lebih kering dibanding tahun lalu.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga memperkirakan musim kemarau bakal berlangsung hingga Oktober. Faktor cuaca kering ini tentu akan mengancam produksi tanaman hortikultura.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Prihasto Setyanto, menyampaikan, seluruh jenis tanaman hortikultura rentan terhadap cuaca panas.

“Ditanya apa saja tanamannya, ya semuanya rentan karena kan perlu air,” ungkapnya saat melepas ekspor bawang merah ke Thailand dan Singapura dari Gudang Marunda Tarumajaya Bekasi, Jawa Barat, Jumat (2/8).

Atas dasar itu, Kementan berupaya menjamin ketersediaan air di daerah lumbung-lumbung hortikultura.

Salah satunya dengan berkoordinasi dengan pemerintah daerah di seluruh Indonesia memberikan bantuan pompa air dan mencari sumber air tanah lain untuk tetap mengaliri tanaman hortikultura.

“Kami berikan bantuan pompa, lalu juga mengembangkan varietas-varietas yang tahan kekeringan. Sebab semua tanaman hortikultura butuh air. Ini kayak cabai, bawang. Kemarau kan bukan berarti air sama sekali enggak ada, masih bisa ada air yang mengaliri,” ungkap pria yang akrab disapa Anton itu.

Saat ditanya di mana saja daerah rawan atau rentan musim kemarau, Anton menjawab seluruh daerah menjadi perhatian.

“Seluruh Indonesia tak hanya di Jawa saja atau Kalimantan saja,” paparnya.

Bawang Merah Tetap Subur

Menurut Anton, justru tanaman hortikultura jenis bawang merah adalah tanaman yang paling kuat terhadap musim kemarau.

Maka dari itu, dia optimistis tetap bisa akan mengejar target 4.000 ton ekspor bawang merah.

Selain Asia Tenggara, beberapa wilayah yang juga sedang dijajaki adalah negara Timur Tengah dan Tiongkok.

“Kami optimistis. Justru di musim kemarau bawang merah paling kuat. Jadi, komoditas yang pasti bisa tercapai terpenuhi untuk diekspor,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Direktur PT Karya Tani Semesta, Pitriansyah Kosim. Karakter tanaman bawang merah memang tahan cuaca panas di musim kemarau.

“Justru bawang merah bagusnya di musim kemarau. Kalau musim hujan kebanyakan air malah busuk,” katanya.

“Yang agak jadi tantangan memang sumber airnya. Kami cari solusi untuk bisa ditanam di daerah yang cukup air tanahnya. Para petani sudah punya banyak pengalaman untuk melakukan budidaya bawang merah,” pungkasnya. (IK/Jawapos)

Komentar

Topik Terkait