oleh

Pilpres 2019, Ada Penumpang Gelap yang Manfaatkan Prabowo?

INIKATA.com – Partai Gerindra harus membuka siapa penumpang gelap yang disampaikan kadernya Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad.

Dasco sebelumnya bercerita soal ada penumpang gelap pada Pilpres 2019 yang kerap menyudutkan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Gerindra.

Masih kata Dasco, Prabowo kesal karena ulah para penumpang gelap itu. Mantan calon presiden nomor urut 02 pada Pilpres 2019 itu ingin membuat para penumpang gelap tersebut gigit jari.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F. Silaen mengatakan, menarik untuk mencermati perkembangan politik kekinian, pasca rangkaian pertemuan penting hingga kehadiran Prabowo di Kongres PDIP.

“Sekarang mulai terkuak pihak-pihak yang selama ini diduga memboncengi Prabowo,” ujar Silaen kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (10/8).

Di awal-awal mungkin saja mantan Danjen Kopassu itu tidak menyadari bahwa sedang dimanfaatkan alias diboncengi penumpang gelap. Namun, meski kelihatan terlambat, kini dia sudah sadar.

Mega dan Prabowo Mulai Harmonis, Buat Surya Paloh Tidak Nyaman?

Untuk itu, kata Silaen, Gerindra harus membukanya.

“Tentu Ini jadi problem besar jika Gerindra tidak menuntaskan sendiri ‘problem’ itu, maka oknum penumpang gelap tersebut akan slalu mencari tumpangan atau boncengan baru, semisal figur kendaraan lain untuk diboncengi lagi,” urai Silaen alumni Lemhanas Pemuda I 2009.

Hal ini sangat mencemaskan masa depan bangsa ini, jika hal ini tidak diputus, artinya dituntaskan oleh Gerindra.

Siapa oknum penumpang gelap yang dimaksud tersebut akan jadi bola liar di tengah kehidupan berbagsa dan bernegara.

“Itu akan menimbulkan kecurigaan yang berkepanjangan yakni saling curiga yang berkelanjutan diantara para elite bangsa ini. Ini juga akan menguras energi yang ada,” ucapnya.

Lanjut Silaen, jika diambil contoh, ibarat penyakit kronis yang sudah menjangkiti organ tubuh tertentu semisal kaki, karena sudah tidak bisa disembuhkan.

Artinya divonis sudah tidak bisa lagi disembuhkan, maka daripada virusnya menyebar ke tempat lain yang dapat mematikan, lebih baik segera diamputasi.

Demikian juga virus ideologi trans nasional yang belakangan ini menguat di tengah masyarakat bangsa ini, sangat mungkin berujung pada kehancuran negeri ini.

“Indonesia adalah negara yang memiliki banyak sekali suku bangsa. Selain itu negara ini juga memiliki enam agama resmi dijalankan secara berdampingan. Itulah Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan Indonesia. Sayangnya dalam beberapa hal, keberagaman ini justru menjadi masalah yang sangat besar. Bahkan bisa memicu suatu bentrokan hingga perang,” ujar Silaen.

Dia kembali menyarankan, sebaiknya Gerindra mau membuka oknum penumpang gelap yang dimaksud, agar oknum tersebut tidak mencari lagi tempat atau orang yang akan diboncenginya lagi.

Masalah seperti ini harusnya bisa diselesaikan dengan baik. Dengan begitu di kemudian hari tak akan bermunculan kasus yang sama, yang dapat mengancam keutuhan bangsa dan negara ini.

“Disamping itu TNI-Polri harus tegas menegakkan aturan yang ada tanpa pandang bulu, agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Akar masalah ketidakadilan juga dapat memicu disintegrasi sosial,” papar Silaen, pengamat sosial-politik zaman now. (IK/Rmol)

Komentar

Topik Terkait