oleh

Kemampuan Akting Tissa Biani Kembali Diuji di Film Anak Garuda

INIKATA.com – Kemampuan akting Tissa Biani Azzahra kembali diuji lewat film inspiratif berjudul Anak Garuda.

Ide cerita film itu diambil dari kisah Sekolah Selamat Pagi Indonesia (Sekolah SPI) yang merupakan peraih penghargaan Kick Andy Heroes 2018.

Film ‘Anak Garuda’ terinspirasi dari kisah tujuh tokoh nyata alumni Sekolah SPI di tahun-tahun awal berdirinya.

Tokoh Olfa, Robet, Yohana, Dila, Sayyidah, Wayan dan Sheren, adalah tujuh siswa Sekolah SPI. Mereka diarahkan oleh mentor mereka Julianto Eka Putra atau Koh Jul.

Kini  mereka sudah mengelola divisi usaha sendiri dan masing-masing beromzet miliaran rupiah dan digunakan kembali untuk mengelola Sekolah SPI.

Kemampuan Akting Tissa Biani Kembali Diuji Difilm Anak Garuda

Tissa Biani yang berperan sebagai Sayyidah juga mengaku bahwa peran Sayyidah memberikan tantangan sendiri bagi karirnya. Dia berusaha untuk bisa menjiwai peran tersebut.

“Sayyidah adalah tokoh yang tidak pernah kehabisan ide dan semangat untuk maju, meskipun berangkat dari kondisi yang terpuruk, bahkan saat kecelakaan hampir merenggut nyawanya, tidak mampu menghentikan semangatnya untuk maju,” ungkap Tissa Biani dalam keterangan tertulis, Jumat (23/8).

Selain Tissa Biani yang berperan sebagai Sayidah, film ‘Anak Garuda’ juga dibintangi olehViolla Georgie sebagai Yohana.

Ajil Ditto sebagai Robet, Clairine Clay sebagai Olfa, Geraldy Kreckhoff sebagai Wayan, Rania Putrisari sebagai Sheren, dan Rebecca Klopper sebagai Dila.

Serta Kiki Narendra yang berperan sebagai Koh Jul, atau Julianto Eka Putra.

Lewat penulis Alim Sudio dan besutan sutradara Faozan Rizal, ‘Anak Garuda’ garapan Butterfly Pictures siap menginspirasi dengan perjuangan anak bangsa mengubah nasibnya di tengah kekurangan.

Sebelum diangkat ke layar perak, kisah petualangan ‘Anak Garuda’ juga sudah bisa dinikmati dalam bentuk webtoon.

Produser Verdi Solaiman mengaku terinspirasi perjuangan siswa-siswi SPI untuk menjadi wirausahawan sukses yang mampu memutus rantai kemiskinan dari keluarga mereka.

Siswa-siswi Sekolah SPI berjuang dari titik nol, atau bahkan minus untuk membalikan keadaan dan menjadi orang-orang yang berhasil.

“Dengan kemauan keras, kerja keras dan disiplin, mereka bisa membuktikan bahwa mereka mampu mengubah nasibnya. Kisah perjuangan anak-anak ini yang menurut saya harus disampaikan ke seluruh Indonesia, sebuah manifestasi sempurna dari Impian Indonesia (Indonesian Dream). (IK/Jawapos)

Komentar

Topik Terkait