oleh

Rencana Tambah Utang Negara, PAN Mendukung, Gerindra Nyindir

INIKATA.com – Sri Mulyani berencana menerbitkan surat utang berdenominasi valuta asing (valas) atau global bond yang ditawarkan ke investor asing dalam waktu dekat.

Mencari sumber utang luar negeri rupanya menjadi solusi terakhir bagi pemerintah untuk menyelamatkan perekonomian saat terjadi defisit.

Rencana itu pun direspons oleh Sekjen PAN, Eddy Soeparno. Menurutnya, tidak ada opsi untuk tidak menambah utang.

Anggota DPR RI inu menyebut, defisit finansial terjadi lantaran pertumbuhan penerimaan pajak negara tidak sesuai harapan.

“Dari segi penerimaan pajak tidak seperti yang diharapkan relatif rendah, tanpa bisa diantisipasi bahwa defisit untuk pajak tahun ini sangat signifikan,” jelasnya.

“Kalau enggak salah angkanya, pertumbuhan pajak itu cuma naik 0,2 persen per Agustus 2019,” tukasnya.

Sementara itu, Partai Gerindra pun mengkritik keras terkait rencana Sri Mulyani. Gerindra melalui cuitan di akun resmi twitternya, menyebutkan bahwa rencana Sri Mulyani merupakan jalan pintas dan membuktikan bahwa tidak ada perbaikan ekonomi selama 5 tahun terakhir.

Apalagi dalam beberapa tahun ini, target dan penerimaan pajak selalu meleset.

“Selama ini pemerintah tidak berhasil melakukan diversifikasi sumber pemasukan dari sektor pajak, dan masih mengandalkan sumber-sumber lama dari sektor migas,” demikian cuitan @Gerindra, Senin (28/10).

Gerindra menilai tidak ada hal baru dari kebijakan Menkeu Sri Mulyani. Surat Utang Negara (SUN) akan diterbitkan Sri Multani dalam dua valuta asing (dual-currency) berdenominasi USD dan Euro.

“Masing-masing sebesar 1 miliar Dolar AS untuk tenor 30 tahun dan 1 miliar Euro untuk tenor 12 tahun, yang berarti akan jatuh tempo pada 30 Oktober 2031 dan 30 Oktober 2049,” demikian ulasan Gerindra.

Gerindra bahkan menyebut, bisa jadi bersinarnya nama Sri Mulyani di mata dunia internasonal karena memberi keuntungan bagi pemberi utang internasional.

“Mungkin hal ini juga yang membuat nama beliau bersinar di dunia utang internasional, mendapatkan banyak penghargaan. Mendapatkan penghargaan internasional karena ikut memberi andil keuntungan kepada pemberi utang?,” tutup @Gerindra.

Beberapa waktu lalu, Sri Mulyani sempat berkilah bahwa penerbitan global bond karena mempertimbangkan kondisi tingkat bunga acuan dunia yang tengah menurun. Kondisi ini memungkinkan pemerintah bisa menarik utang dengan tingkat bunga yang lebih rendah kepada pemberi utang.

“Secara internasional suku bunga sangat rendah. Jadi ini akan memberikan opportunity pada kita untuk mencari pembiayaan paling baik bagi kita,” ucap Sri Mulyani beberapa waktu yang lalu di Kompleks Istana Kepresidenan.

Rencana utang itu disebabkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019. Defisit anggaran sebesar Rp199,1 triliun atau 1,24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir Agustus 2019.

Defisit tersebut berasal dari belanja negara sebesar Rp 2.461,1 triliun, sementara pendapatan hanya sebesar Rp 1.189,3 triliun. (rmol-pojoksatu)

Komentar