oleh

Protes Keputusan Wasit, PBSI Kirim Surat ke BWF

INIKATA.com – Peluang juara Anthony Sinisuka Ginting di Hongkong Open 2019 ikut dibunuh oleh keputusan sembrono umpire atau wasit asal Jerman Joerg Hupertz.

Saat itu, lawan Ginting, pemain asal Hongkong Lee Cheuk Yiu meraih championship point dalam kedudukan 21-20. Dalam situasi sangat kritis, Ginting lantas menyambar bola netting Lee. Dari tayangan ulang televisi terlihat jelas bahwa bola sodoran Ginting itu sangat bersih dan sah.

Sebelum Ginting melakukan sabetan, shuttlecock sudah melewati net. Raket milik Ginting juga sama sekali tak menyentuh net. Walau posisi raket sedikit berada di area permainan Lee, namun poin itu clear menjadi milik Ginting.
Itu mengacu berdasarkan pasal 13.4.2 yang dikeluarkan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).
Kalau aksi Ginting tidak difault, maka pertandingan berlanjut. Ginting berhak mendapatkan satu angka dan membuat kondisi kembali imbang 21-21.

Namun, ternyata wasit Hupertz memutuskan lain. Ginting dianggap melakukan kesalahan. Satu poin bertambah untuk Lee dan membuatnya juara di kandang sendiri. Skor akhir game ketiga menjadi 22-20 untuk kemenangan Lee.

Pada game pertama, Ginting menang 21-16. Tetapi, Lee mampu menyamakan kedudukan 1-1 karena unggul pada game kedua dengan skor 21-10.

Menanggapi kontroversi tersebut, PP PBSI resmi mengirimkan surat protes kepada BWF. Surat elektornik sudah dikirimkan oleh Kepala Subbidang Hubungan Luar Negeri Bambang Roedyanto.

”Intinya kami meminta (BWF, Red) untuk melihat ulang videonya,” kata pria yang akrab dipanggil Rudy tersebut kepada Jawa Pos. Saat dihubungi, Rudy sedang berada di Tokyo. Dia terpilih masuk dalam tim penyelenggara event bulu tangkis pada Olimpiade Tokyo 2020.

”Di sini (Jepang, Red) pertandingan itu juga jadi pembahasan. Ada wasit yang setuju dan tidak setuju. Jujur saja, itu grey area. Memang bisa diperdebatkan. Sebab mata kamu dan mata saya berbeda. Karena memang kejadiannya cepat,” ucap Rudy. ”Tetapi tetap saja saya protes dan ngomong. Saya harus ngomong bahwa keputusan wasit itu salah,” imbuhnya.

Kesalahan fatal wasit ini mungkin saja bisa terjadi di masa depan. Sebab pada ajang French Open 2019 misalnya, tunggal putra Indonesia lainnya Jonatan Christie sempat menjadi korban kesalahan wasit.

Kejadiannya saat Jonatan berhadapan dengan tunggal Denmark Viktor Axelsen pada babak semifinal. Ketika itu, pada game ketiga, raket Axelsen menghantam net.

Namun, umpire tetap mengesahkan poin Axelsen. Untung saja ketika itu Jonatan menang dengan skor 7-21, 22-20, 21-19. Jadi kontroversi tidak seramai insiden Ginting ini.

Rudy menambahkan bahwa seharusnya ada mekanisme challenge jika pemain tidak puas pada keputusan service judge atau umpire. Jadi teknologi hawkeye tidak hanya digunakan untuk melihat bola masuk atau keluar saja. ”Memang harus diusulkan ke BWF council members. Biasanya mereka rapat pada Januari atau Februari tahun depan. Mungkin isu ini bisa dibawa ke sana,” ucapnya.

Pada bagian lain, Sekretaris Jenderal PP PBSI Achmad Budiharto mengatakan bahwa pihaknya sudah mengingatkan agar wasit lebih cermat dalam mengambil keputusan.
Namun, sejatinya dia bisa memaklumi bahwa wasit bisa salah. Sebab, momen itu terjadi dengan sangat cepat. ”Apapun, kita tidak bisa mengubah hasil pertandingan,” ucapnya.

“Namun, umpire harusnya memang lebih jeli. Jadi sekarang memang sudah tidak bisa diubah. Kecuali ada aturan yang membuat keputusan wasit bisa dichallenge. Tetapi memang belum sampai ke sana,” imbuh Budi, panggilannya.
Pembahasan soal adanya aturan atau teknologi baru biasanya diputuskan pada annual general meeting (AGM) BWF.

Namun, sejauh ini belum ada pembicaraan tentang aturan anyar terkait challenge keputusan wasit atau service judge
Dan apakah umpire pertandingan Ginting versus Lee itu bisa mendapatkan sanksi karena kesalahannya, semua tergantung dari pengawas wasit.

BWF menyebut sang pengawas dengan istilah referee.
Nah, referee inilah yang nantinya membuat catatan dan rekomendasi atas kinerja umpire. Sebab dalam setiap pertandingan, referee yang bertanggung jawab penuh. Dia juga membawahi banyak komponen laga antara lain umpire, line judge, service judge, dan match control. ”Jadi memang terserah penilaian referee,” kata Budi. (Jpc)

Komentar

Topik Terkait