oleh

BNPB Tetapkan Sulbar Daerah Rawan Bencana Tsunami

INIKATA.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia (RI) menetapkan Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) sebagai daerah rawan tsunami. Hal itu terungkap saat rapat koordinasi kebencanaan di lantai IV Kantor Gubernur Sulbar, Kamis (21/11/19).

Berdasarkan data National Oceanic And Atmospheric Administration (NOAA) setidaknya sudah lima kali terjadi tsunami di provinsi ke-33 itu sejak 1815-1969.

Kepala BNPB RI, Letjen Doni Monardo membeberkan terdapat tiga lempeng besar yang melewati Sulbar, yakni lempeng Eurosia, Indo-Australia dan lempeng Pasifik. Tak hanya itu, secara umum di pesisir Sulbar membentang Sesar Saddang, yang melintasi Mamuju, Mamasa hingga Pinrang Sulsel.

“Kita tidak boleh berdiam diri, mitigasi bencana adalah hal wajib yang harus kita lakukan kepada masyarakat,” ujar Doni.

Doni juga berpesan agar pemerintah hingga jajajran terbawa, TNI-Polri serta seluruh elemen masyarakat berperan aktif melakukan pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

“Belum ada alat yang bisa mendeteksi datang gempa. Kalau tsunami sudah banyak alatnya, makanya kita harus melek atas bencana,” kata Doni.

Oleh karena itu Doni menginginkan agar Pemprov Sulbar pro aktif mengumpulkan data terkait gempa. Karena, data itu sangat dibutuhkan untuk melakukan antisipasi.

Bahkan, BNPB RI melakukan pencarian data kebencanaan hingga ke negara Belanda.
“Dokumen bencana masa lalu harus ditemukan. Harus dicari data patahan dimana titik yang dilewati di Sulbar. Kalau membangun jangan di daerah patahan karena rentang dengan musibah jika terjadi pergerakan lempengan,” terang Doni.

“Yang perlu dilakukan Pemprov Sulbar dalam waktu dekat adalah mitigasi bencana, karena akan memasuki musim hujan yang selalu diikuti gelombang tinggi dan angin kencang. Harus diantisipasi. Pohon besar dipangkas, jangan ditebang,” sambung Doni.

Sementara itu, Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar menyebut rapat kordinasi dan konsultasi pemetaan penanggulangan bencana oleh BNPB di Sulawesi Barat sebagai upaya memberikan edukasi kepada elemen masyarakat tertang kebencanaan.

“Tanpa terkecuali, utamanya instansi pemerintah harus melakukan mitigasi bencana, di daerah kita ini sangat cocok dibangun laboratorium kebencanaan,” ujar Ali Baal.

Ali Baal juga mengatakan siap untuk melaksanakan pelatihan kebencanaan, untuk mengurangi risiko bencana, seperti melakukan simulasi penanggulangan secara rutin.

“Sulbar ini daerah yang dikategorikan rawan bencana. Karena itu, disini sangat cocok dibangun, pusat laboratorium kebencanaan dan juga perlu diarahkan kembali program-program pelatihan BNPB. Ini sangat kita butuhkan kedepan untuk menanggulangi terjadinya bencana,” tutup Ali Baal. (Rajab)

Komentar

Topik Terkait