oleh

Setelah Garap 89 Orang, Kejagung Segera Tetapkan Tersangka Jiwasraya

INIKATA.com – Kejaksaan Agung (Kejagung) masih berupaya melakukan penyidikan atas kasus carut-marutnya keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Progres penyidikan sendiri sudah mengarah kepada calon tersangka yang dianggap bertanggung jawab atas kerugian yang diderita perusahaan pelat merah itu.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Adi Toegarisman mengatakan, penyidik telah memintai keterangan dari 89 orang saksi. Namun, dia masih menutup rapat identitas 89 orang tersebut. “Saya sampaikan sekitar 89 orang yang sudah kami periksa,” kata Adi di kantor Kejagung, Jakarta Selatan, Rabu (18/12).

Adi hanya memastikan 89 saksi tersebut adalah sosok yang dianggap memahami, melihat, maupun mendengar langsung kepailitan Jiwasraya. Demi kepentingan penyidikan, maka publik diminta untuk memaklumi keputusan penyidik yang tidak mengungkap identitas saksi tersebut.
“Yang berkaitan dengan kasus itu pasti kami mintai keterangan. Jumlahnya tidak sedikit loh 89,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Adi menyebut bahwa penyidik sudah mengantongi daftar calon tersangka kasus Jiwasraya ini. Hanya saja, saat ini belum dapat diungkap kepada publik. Sebab, penyidik masih mengumpulkan fakta dan alat bukti. Penyidik pun masih memastikan jumlah konkret kerugian negara akibat Jiwasraya.

“Kalau namanya kasus pasti ada calon tersangkanya, tapi kapan kami sampaikan ada SOP,” pungkas Adi.
Sebelumnya, Jaksa Agung ST Burhanuddin menuturkan, kerugian Jiwasraya timbul karena adanya tindakan yang melanggar prinsip-prinsip tata kelola yang baik. Yakni, terkait dengan pengelolaan dana yang berhasil dihimpun melalui program asuransi.
Hal ini terlihat dari pelanggaran prinsip-prinsip kehati-hatian berinvestasi yang dilakukan oleh Jiwasraya dengan cara banyak melakukan investasi pada aset-aset dengan risiko tinggi untuk mengejar high grade atau keuntungan tinggi. Berupa penempatan saham sebanyak 22,4 persen senilai 5,7 triliun, namun mayoritas saham tersebut dikelola oleh perusahaan dengan kinerja buruk.
“Dari aset finansial dan jumlah tersebut 5 persen dana ditempatkan pada saham perusahaan dengan kinerja baik. Dan sebanyak 95 persen dana ditempatkan di saham yang berkinerja buruk,” ungkap Burhanuddin.
Penyebab kebangkrutan Jiwasraya lainnya, yakni penempatan reksadana sebanyak 59,1 persen senilai Rp 14,9 triliun dari aset finansial. Dari jumlah tesebut, hanya 2 persen yang dikelola oleh manager investasi Indonesia dengan kerja baik, sedangkan 98 persen dikelola oleh manajer investasi dengan kinerja buruk.

“Sebagai akibat transaksi tersebut PT Asuransi Jiwasraya Persero sampai dengan bulan Agustus 2019 menanggung potensi kerugian negara sebesar Rp 13,7 triliun. Hal ini merupakan perkiraan awal dan diduga ini akan lebih dari itu,” pungkas Burhanuddin. (JPc)

Komentar