oleh

ACC Sulawesi Desak Polda Segera Usut Keterlibatan Pimpinan UNM Dalam Kasus Lab Terpadu

MAKASSAR, INIKATA.com – Lembaga Anti Corruption Committe (ACC) Sulawesi sebut kasus pembangunan Labolatorium Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar, Polisi tak berani tetapkan aktor intelektual dalam kasus korupsi tersebut.

Pasalnya, hingga saat ini kasus tersebut  tidak mendapat progres lagi dari pihak Polda Sulsel, dimana diduga ada oknum pimpinan tertinggi dilingkup UNM terlibat dalam kasus korupsi yang negara harus menelan kerugian sebesar Rp4.291.459.583,00.

“Kasus yang kita anggap mandek salah satunya itu kasus Pembangunan Lab Teknik UNM, 2 orang sudah ditetapkan tersangka dan sudah sidang, dan ini kita anggap masih mandek,” ucap Angga Reksa penggiat ACC Sulawesi saat penyampaian rilis kinerja akhir, diKantor ACC Sulawesi, Minggu (29/12/2019).

Kata dia, alasan dirinya mengatakan kasus tersebut mandek lantaran aparat penyidik tindak pidana korupsi (Tipikor) Polda Sulsel belum berani menetapkan petinggi kampus UNM terlibat dalam kasus tersebut.

“Kenapa kita anggap mandek karna pelaku intinya belum juga ditetapkan tersangka, ada aktor intelektual petinggi dalam kasus tersebut,” tuturnya.

Diketahui dalam kasus tersebut penyidik Tipikor Polda Sulsel telah menetapkan tiga orang tersangka masing-masing Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Prof Mulyadi, Direktur Utama PT Jasa Bhakti Nusantara selaku pelaksana pekerjaan, Edy Rachmat Widianto dan Team leader PT Asta Kencana Arsimetama, Yauri Razak selaku konsultan manajemen konstruksi.

Kasus tersebut diketahui telah mendapat proses supervisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dimana dalam penanganan kasus tersebut, Polda Sulsel didesak untuk  mendalami keterlibatan pihak-pihak lain yang dinilai paling bertanggung jawab atas terjadinya kerugian negara dalam proyek yang anggarannya bersumber dari APBN tersebut.

Pihak yang dimaksud oleh hasil supervisi KPK tersebut, diantaranya mantan Rektor UNM, Prof Arismunandar, Direktur Utama PT Asta Kencana Arsimetama Unggul Roseno, mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Ismail, pejabat penandatanganan surat perintah membayar (SPM) Nurdiana serta Husain Syam yang saat ini menjabat sebagai Rektor UNM.

Proyek pembangunan Laboratorium Terpadu di Fakultas Teknik UNM diketahui menelan anggaran APBN 2015 senilai Rp 34,9 miliar lebih sesuai nilai kontrak pengerjaan. Berdasarkan perhitungan BPKP Sulsel, pembangunan gedung tersebut mengalami kerugian negara sebesar Rp 4,2 miliar lebih. (Anca)

Komentar