oleh

Juara All England 2020, Praven/Melati Buktikan Kuasai Turnamen di Eropa

INIKATA.com – Buat Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, pengalaman di Arena Birmingham tadi malam adalah serba-pertama. Kali pertama tampil di final All England. Sekaligus kali pertama tampil di final turnamen super 1000. Namun, status debutan seperti tidak ada artinya bagi pasangan nomor 5 dunia itu.

Menghadapi bintang Thailand Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai yang peringkatnya lebih tinggi, mereka sama sekali tidak gentar.

Performa garang Praveen dan permainan cantik Melati di depan net mengantar mereka sukses merebut gelar untuk kali pertama! Puavaranukroh/Taerattanachai dihajar dengan skor 21-15, 17-21, 21-8.

Itu berarti mereka menyapu bersih semua gelar dari tiga turnamen terakhir di Eropa. Tahun lalu mereka menjuarai Denmark Open, lalu disambung French Open. Ditambah All England, lengkap sudah gelar mereka di Benua Biru untuk kategori turnamen super 750 ke atas.

Bagi Praveen, ini memang bukan kali pertama dirinya juara All England. Pada 2016, dia pernah merebut gelar bersama Debby Susanto. Tapi, merebut gelar kedua bersama partner yang berbeda disebutnya istimewa. ’’Itu jelas nggak mudah,’’ katanya dalam wawanacara di court.

Praveen/Melati punya keunggulan head-to-head atas pasangan nomor 3 dunia tersebut. Dari lima pertemuan sebelumnya, mereka menang tiga kali. Namun, menurut Melati, unggul di atas kertas tidak membuktikan apa-apa. ’’Ini pertandingan level tinggi. Statistik nggak terlalu berpengaruh. Maka, kami harus tetap fokus dan memberikan yang terbaik di lapangan,’’ kata pemain 26 tahun itu.

Tadi malam Praveen/Melati memang tampil sangat solid sejak game pertama. Minim sekali kesalahan yang mereka buat. Smes tajam Praveen berkali-kali menghajar Puavaranukroh, sedangkan defense Melati yang semakin bagus membuat lawan frustrasi. Pengembalian pasangan Thailand itu kerap keluar atau nyangkut di net.

Sejak game pertama pula, servis Praveen sering dianggap fault oleh service judge. Itu berlangsung terus sampai game kedua. Tercatat, selama dua game, lima kali servisnya dianggap terlalu tinggi.

Awalnya, pemain binaan PB Djarum itu tidak terganggu. Lama-lama dia kesal juga. Pada game kedua, penilaian service judge mulai memengaruhi mental mereka. Dari unggul 12-10, perolehan angka mereka tersusul dan tidak bisa mengejar balik.

’’Di game kedua, kami ada kesalahan strategi. Kami terlalu banyak meladeni pukulan mereka,’’ ungkap Praveen di mixed zone. Untung, pada game ketiga, mereka mampu mengembalikan kepercayaan diri. Ketika mendapat kesempatan servis, Praveen/Melati langsung ngebut dan leading 11-5 saat interval.

Keunggulan telak itu sempat sedikit terkejar saat pergantian lapangan. Tapi, mereka hanya membiarkan lawan memetik tiga angka tambahan. Sebuah pengembalian Puavaranukroh yang tersangkut di net mengakhiri perjuangan mereka.

’’Game ketiga kami banyak langsung menyerang,’’ kata Praveen. ’’Kami banyak membawa mereka ke permainan kami. Bisa dilihat, mereka seperti tidak berkutik. Setiap ketemu mereka pasti ramai (ketat, Red). Poinnya pasti ramai,’’ tambah dia. Selamat! (JPC)

Komentar