oleh

Ini Kunci Kesuksesan Atlet Para Bulu Tangkis Indonesia

INIKATA.com – Atlet para bulu tangkis Indonesia Leani Ratri Oktila mengungkapkan kunci kesuksesannya berkarier di ajang-ajang besar dunia.

Semua itu, kata Leani, bersumber dari keinginan kuatnya melihat bendera Merah Putih berkibar dan mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang saat memenangkan kejuaraan.

“Hal terbaik menjadi atlet Internasional adalah ketika saya menang, dunia melihat apa yang saya lakukan untuk negara saya Indonesia. Saya bisa membuat negara dan keluarga saya bangga,” kata Leani seperti dilansir situs resmi BWF Minggu (3/5).

Tahun 2019 menjadi periode tersukses bagi atlet 28 tahun tersebut. Leani meraih dua emas dan satu perak pada kejuaraan BWF Para Bulu Tangkis Dunia di Basel dan memenangkan beberapa kejuaraan Asia.

Menurut Leani, kemenangan yang paling manis adalah saat dia meraih emas ganda putri bersama Khalimatus Sadiyah Sukohandoko.

Mereka sukses mengalahkan musuh lamanya asal Tiongkok, Cheng Hefang/Ma Huihui pada kejuaraan Asian Para Games 2018

“Saya berteman baik dengan Cheng. Tapi, sekitar beberapa tahun lalu, saya menilai Cheng menjadi salah satu lawan paling sulit. Dia punya fisik yang lebih kecil dan ringan, sehingga membuatnya lebih gesit dan cepat di lapangan,” kata pemain tunggal putri para bulu tangkis (SL4) nomor satu dunia itu.

Di ganda putri, Leani juga beberapa kali meraih kemenangan bersama Khalimatus maupun dengan Hay Susanto. Bahkan dengan semua kemenangannya, Leani mengakui bahwa dia tak selalu bermain sempurna.

Leani menambahkan bahwa dia selalu telat panas dalam permainan. Terutama saat awal pertandingan, sehingga lawan mendapatkan beberapa poin.

“Saya akui saya telat panas di awal, sehingga butuh waktu. Selain itu saya harus mempelajari teknik lawan setelah itu saya memainkan permainan saya. Tapi saya punya kelebihan, tembakan dan smes saya yang paling kuat,” ujar Leani.

Meskipun mempunyai kaki kiri yang lebih pendek, tapi eksekusi smes Leani mematikan. Dia memiliki kaki kiri lebih pendek akibat kecelakaan yang dia alami pada 2011.

Ketika itu dia sedang mengendarai sepeda motor dan ditabrak mobil. Tapi, dua tahun kemudian, Leani kembali bermain bulu tangkis.

“Pada saat kecelakaan, usia saya 20 tahun dan sudah bermain bulu tangkis sejak usia tujuh tahun. Saat itu saya merasa mustahil untuk kembali ke lapangan, tapi dorongan keluarga membuat saya bangkit kembali,” ucap anak kedua dari sepuluh bersaudara itu.

“Ayah saya seorang petani, ibu seorang ibu rumah tangga. Mereka bukan atlet, tetapi selalu mendorong saya untuk meraih mimpi saya dengan cara saya dan dukungan dari keluarga,” tambahnya.

“Ketika saya ingin kembali ke permainan setelah kecelakaan, ayah mengajak saya untuk berlatih. Saudara saya yang bermain bulu tangkis juga membantu. Tanpa mereka saya tidak akan seperti ini. Saya senang dikelilingi keluarga yang peduli dengan saya,” ujarnya.

Bukan hanya keluarga, rekan satu tim pun yang membuat Leani bahagia karena selalu mendukung.

“Saya bersyukur kepada Tuhan, saya dikelilingi oleh orang-orang yang mendukung saya. Ketika saya menang, mereka bahagia, ketika saya kalah, mereka menghibur,” katanya.

Meskipun dia hangat dan ramah, Leani memilih kesunyian dengan buku atau musik favoritnya.

“Terkadang saya butuh ketenangan. Saya mencintai hidup saya, untuk sekarang hanya bulu tangkis. Saat ini, saya tengah menyelesaikan gelar pendidikan dan belajar setiap kali ada waktu,” terangnya.

Dengan kondisi pandemi Covid-19 ini, Oktila lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sambil berkhayal mendapatkan emas Paralympic.

“Di situasi seperti ini, saya berlatih sendiri, ya menjaga fisik dan mental. Pelatih juga memberikan program latihan lewat aplikasi, saya juga berlatih dengan saudara. Saya harus siap ketika turnamen kembali bergulir terutama menuju Paralympic,” ucapnya. (Jawapos)

Komentar