oleh

Kejati Sulsel Dalami Proyek Pipa Avtur Pertamina-Bandara Makassar

MAKASSAR, INIKATA.com – Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Kejati Sulsel) terus mendalami adanya aroma korupsi pada proyek pembangunan jaringan pipa distrubusi avtur milik PT. Pertamina-Bandara Makassar yang telah menelan anggaran ratusan miliar.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Kejati Sulsel), Firdaus Dewilmar, Senin (8/6).

Wali Kota Dani Fatma

“Penyelidikan masih berjalan dan sudah banyak yang diperiksa terkait itu,” ucap Firdaus saat ditemui di Kantor Kejati Sulsel.

Mengenai kabar penjualan kredit macet proyek jaringan pipa distribusi avtur yang dimaksud oleh tiga Bank diantaranya Bank Mandiri, Firdaus mengatakan pihaknya sementara mendalami hal tersebut.

“Tim sedang mendalami semuanya,” ucap Firdaus.

Sementara, Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Kejati Sulsel), Idil mengaku hasil penyelidikan sementara ditemukan adanya pencairan kredit dari tiga Bank yakni Bank Mandiri, BCA dan Permata dengan menjaminkan kontrak pekerjaan proyek jaringan distribusi pipa avtur dari TBBM Makassar ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang bernilai Rp155 miliar tersebut.

“Terkait kredit macet dari kegiatan itu kemudian dikabarkan dijual ke perusahaan sirup, itu sedang dalam proses penyelidikan mendalam,” ujar Idil saat ditemui di ruangan kerjanya. 

Sebelumnya, Pegiat Anti Corruption Committee Sulawesi (ACC Sulawesi), Angga Reksa mengaku mendukung penuh langkah penyelidikan Kejati Sulsel terhadap mega proyek milik Pertamina yang mangkrak tersebut.

Hanya saja, kata dia, Kejati Sulsel harus transparan dan tetap profesional nantinya dalam mengusut tuntas adanya dugaan korupsi pada proyek milik PT. Pertamina itu.

“Aroma korupsi pada mangkraknya proyek tersebut sangat nampak sekali. Kita harap penyelidikan betul-betul maksimal dan segera ada kespastian hukum,” ungkap Angga.

Manager Comunication PT. Pertamina, Hatim Ilwan juga sempat membantah bila proyek tersebut dikabarkan mangkrak. 

Menurutnya, pengerjaan proyek yang dimaksud sudah terlaksana 80%. 

Adapun kegiatan pembongkaran pipa jaringan yang ditanam di bawah tanah area Bandara, kata dia, itu dilakukan mengkondisikan adanya pembangunan perluasan Bandara oleh PT. Angkasa Pura.

“Jadi dibongkarnya bukan karena kesalahan spek,” kata Hatim. (Anca)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Topik Terkait