oleh

Momen Haru Saat Irwandi Bantu Warga yang Rumahnya Sudah Tak Layak Huni

BONE, INIKATA.com – Entah habis mimpi apa semalam Bu Intan, warga kelurahan Tibojong Kabupaten Bone ini tiba-tiba ketiban durian runtuh. Bagaimana tidak, wanita parubaya ini tak pernah menyangka didatangi oleh sekelompok anak muda menawarkan bantuan bahan-bahan perbaikan rumah.

Rumah pemberian dari nenek mendiang suami yang telah memberinya dua anak, kini sudah sangat reot dan harusnya tak layak dihuni lagi. Tetapi apa daya hanya itu yang dia punya, tanah tinggalpun pemberian dari adik ipar.

Para pemuda tersebut adalah komunitas One Supporting, sekelompok pemuda kreatif dibawah binaan mantan aktivis 98′ Makassar, Andi Irwandi Natsir yang kini telah Dua periode terpilih menjadi anggota legislatif Provinsi Sulsel dari partai PAN.

Saat dikonfirmasi, Andi Irwandi sendiri menuturkan bahwa kegiatan itu, hanya inisiatif sukarela komunitas. Irwandi mengaku mendapat kabar adanya warga yang membutuhkan bantuan itu setelah bercerita lepas dengan tetangganya.

“Kemaren maghrib tetangga datang silaturrahmi ke rumah lepas kangen, ngobrol panjanglah kita. Hingga nyerempet soal kakak iparnya yang kondisi rumahnya sangat memprihatinkan,” ujar Irwandi.

Ia mengaku sangat tersentuh atas cerita tetangganya itu, legislator Sulsel ini pun langsung mengumpulkan anggota komunitasnya (One Supporting) untuk segera menyalurkan mantuan.

“Selepas tetangga itu balik, kita langsung diskusikan dengan teman-teman One Supporting. Besoknya kita langsung ke lokasi dan beri support, seperti papan, seng dan beberapa perabot lainnya. Belum cukup pasti, tetapi setidaknya kita bantu tutup kekurangan yang ada,” katanya.

“Kalau menunggu lagi pembahasan anggaran perubahan atau pokok untuk membantu saudara kita, akan butuh waktu lagi,” tuturnya.

Begitu sampai di lokasi, momen haru tercipta, dengan mata berkaca-kaca, dan mulut terbata-bata, Bu Intan hampir tak mampu menyelesaikan rangkaian kalimat terima kasihnya. Refleks saja, Andi Irwandi merangkul pundaknya sambil mengelus penuh kasih.

“Komunitas ini terbentuk memang demikian, salah satu jaring respon sosial kemasyarakatan. Kami paham, ada gap yang terbentuk dari kalangan pemangku kewenangan dengan mereka yang dipinggiran. Oleh karena itu, kita rangkul para pemuda yang punya kecenderungan dan mobilitas tinggi untuk ini. Kami tak beri gaji, karena kami pernah sama merasakan saat masih berjuang di kampus-kampus,” terangnya. (Hendrik)

loading...

Komentar

Topik Terkait