oleh

Polisi Tak Menahan Pelaku Penganiayaan di Agangjene Jeneponto

JENEPONTO, INIKATA.com РPelaku penganiayaan yang terjadi di Agangjene, Kelurahan Empoang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, pada tanggal 13 Juni 2020, sampai sekarang masih bebas berkeliaran tanpa dilakukan penahanan pihak Unit PPA Reskrim Polres Jeneponto. Sesuai laporan polisi, LP/B/201/VII, Res,1,6/Sulsel/Res/2020/Res Jeneponto, dijelaskan korban pelapor Rahmat Bin Sangkala melaporkan telah dianiaya dengan cara dipukul beberapa kali dengan menggunakan tangan (tinju) dan menendang korban beberapa kali.

Dalam laporan polisi dijelaskan pula korban mengalami luka pada kepala, luka bengkak pelipis sebelah kiri, luka bengkak pada bibir, luka bengkak dibawah telinga sebelah kiri, luka bengkak pada pundak belakang sebelah kiri, dan luka lecet pada lutut sebelah kanan.

Sehingga, dengan adanya kejadian tersebut, korban merasa keberatan dan meminta polisi memproses kasus itu seadil-adilnya agar pelaku ditahan dan dihukum demi mempertanggungjawabkan perbuatannya memukul orang tanpa bersalah. Begitupun, orang tua korban, Sangkala meminta berharap menahan pelaku penganiayaan terhadap anaknya secepatnya.
Senada dengan tuntutan korban dan orang tua korban, salah satu keluarga korban, Kahar mempertanyakan ke Kanit PPA, Ipda Uji Mughni dan mendesak pelaku ditahan, namun jawaban yang diterima dari polisi mengambang dan tidak ada kejelasan penanganan kasus yang dialami keluarganya sampai saat ini. Padahal kejadiannya lumayan lama, 10 hari lebih yang lalu yaitu tanggal 13/7/2020.

“Proses masih lidik, nanti kalau panjang umur, maka saya akan gelar perkara pada hari Senin (hari ini) atau Selasa (besok) kalau belum digelar, saya belum berani melangkah. Saya juga takuti pak, menyalahi prosedur. Otomatis tindakan saya tidak sah, dan tidak diterima di pengadilan, bahkan saya juga bisa di pra peradilankan,” kilah Uji Mughni.

Padahal berdasarkan keterangan saksi di lapangan dan saksi yang mintai keterangan oleh penyidik PPA yaitu Monalisa dan Nara Dg Nangnga, diungkap indentitas pelaku bernama Sapar dan Paisal keduanya warga Agangjene, Kelurahan Empoang, Kecamatan Binamu, secara bersama menganiaya korban, Rahmat Bin Sangkala mulai di atas motor sampai jatuh masih tetap korban dipukuli.

Ironisnya lagi, dari keterangan saksi di lapangan, Nara Dg Nangnga bahwa setelah terjadinya perkelahian, datang seorang keluarga pelaku bernama Mile dengan mengeluarkan senjata tajam (sajam) berupa badik dari sarungnya. Bahkan, sarung badik dijadikan barang bukti dibawa ke Polres Jeneponto sebagai barang bukti.
Namun apa yang terjadi pihak penyidik Unit PPA belum melakukan penahanan kepada pelaku penganiayaan. Sehingga pihak korban mempertanyakan proses hukum terhadap pelaku tersebut. Bahkan bukti apalagi yang dicari penyidi polisi, pasalnya ada keterangan saksi korban, bukti visum sudah ada dari rumah sakit, dan saksi di lapangan sudah diperiksa.

Keluarga korban, Kahar mengungkapkan, sebelumnya juga Kanit PPA berdalih tak ditahannya pelaku lantaran tak disebut di BAP korban dan saksi belum diperiksa, sedangkan korban saat itu spontan dipukul dari samping di atas motor sampai jatuh dipukuli hanya karena berpapasan saja. “Saya menyampaikan kepada Kanit PPA dan penyidiknya tentang indentitas dan kampung pelaku sekitar TKP di Agangjene. Namun polisi belum ada tindaklanjut. Terlebih lagi kedua saksi sudah dimintai keterangan kemarin, jadi apalagi ditunggu polisi ?,” ungkapnya. (Kahar)

loading...

Komentar