oleh

Insiden Bayi Dalam Kandungan dan Ibu Meninggal, Ini Penjelasan RSUD Bulukumba

BULUKUMBA, INIKATA.com – Pihak keluarga memprotes insiden bayi dalam kandungan yang meninggal bersama ibunya saat di rawat di rumah Sakit umum Bulukumba, Jumat (7/8/2020).

Pihak keluarga almarhum A Rasti Dwi Rahayu mempersoalkan manajemen pelayanan RSUD yang dianggapnya lalai dan melakukan pembiaran yang mengakibatkan pasien meninggal.

“Pihak keluarga akan melanjutkan permasalahan tersebut ke ranah hukum dan akan melakukan aksi besar besaran di rumah sakit,” ujarnya.

Pihak rumah sakit yang diwakili dr Rizal yang dimintai klarifikasinya membantah tudingan pihak keluarga almarhum. Pihaknya kata dia telah bekerja sesuai SOP.

“Kalau kami di tuding melakukan pembiaran dan tidak memperhatikan pasien itu tidak benar, Sebab pemantauan denyut jantung janin dan kontraksi dipantau tiap jam,” trangnya.

Terkait tuntutan pihak keluarga, Rizal mengatakan, kalau dokternya tidak stand by dokter ahli itu tidak on time di rumah sakit. “Yang Stand by itu dokter umun, bidan dan perawat. Terkecuali dalam keadaan urgency (darurat) baru dokter ahli yang tangani.” katanya

“Begitu juga dengan mengambil tindakan operasi secar (SC), pihak keluarga mesti tahu, tidak serta merta dilakukan tindakan operasi, ada protap dan proses yang mesti dilalui,” ujarnya.

“Seperti kasus ini sesuai surat pengantar dari Klinik Yasira, kalau pasien ini lewat bulan, masuk 42 Minggu. Meski lewat bulan namun karena ada kemungkinan lahir normal maka yang perlu dilakukan adalah tindakan induksi, jika tidak ada perkembangan atau pembukaan maju baru bisa dilakukan operasi,” jelasnya.

Lanjutnya, soal bobot bayi berat yang melewati batas dari pengakuan pihak keluarga yang katanya sesuai keterangan pengantar Klinik Yasira, itu juga salah.

“Kalau soal bobot yang di sebut pihak keluarga beratnya melewati batas itu tidak ada, yang ada itu sesuai pengantar Klinik Yasira, cuman lewat minggu (42 minggu),” bebernya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, untuk menolong bayi dalam kandungan yang di tuntut juga pihak keluarga, hal tersebut tidak bisa dilakukan operasi.

“Kalau permintaan pihak keluarga almarhum kemarin meminta bayi di selamatkan, itu sia-sia dilakukan karena detak jantung bayi 1 kali perdetik. Kecil peluang untuk hidup, kalau dilakukan operasi kasihan ibunya,” tuturnya. (Dirman)

loading...

Komentar