oleh

Kasus Sengketa Tanah Ayah dan Anak, Korban Curhat Soal Rendahnya Tuntutan Terdakwa

MAKASSAR, INIKATA.com – Seorang pria asal Kota Parepare, Abdul Mukti Rahim (83) tak henti – hentinya memperjuangkan perjalanan perkara dugaan perusakan pagar dan tanaman miliknya yang saat ini bergulir di Pengadilan Negeri Parepare.

Pelaku dugaan perusakan pagar dan tanaman miliknya tak lain adalah anaknya sendiri yang bernama Haji Ibrahim alias H. Aco yang saat ini berstatus terdakwa.

Mukti mengaku, mempidanakan anaknya itu lantaran sudah tak tahan dengan prilakunya yang ia anggap sudah kelewat batas.

Selain menggugat harta warisan, terdakwa juga pernah mempidanakan dirinya dengan tuduhan yang tidak benar karena saat diproses di Kepolisian tuduhan anaknya tersebut tidak terbukti.

“Dia (H. Aco) bersama saudaranya Muhtar itu serakah dan mau memonopoli harta kewarisan. Padahal SPBU yang saya rintis dari awal itu saya ingin jual karena saya sudah tua dan tak bisa kelola lagi. Hasilnya rencana saya bagikan ke mereka semua juga dan sisanya saya hibahkan ke pembangunan masjid. Saya tak ingin meninggalkan dunia ini dengan melihat anak-anak berselisih karena harta warisan. Makanya saya lakukan itu tapi selalu dihalangi oleh H. Aco,” terang Mukti.

Ia mengaku sudah banyak calon pembeli yang datang menawar SPBU yang berlokasi di Soreang tersebut, namun selalu dihalangi oleh H. Aco.

“Dia (H. Aco) sengaja membangun rumah mewah di atas lahan SPBU dan merusak pagar pembatas dan tanaman yang saya tanam dan rawat di belakang batas SPBU. Jadi dia sandera saya agar tidak bisa menjual SPBU tersebut,” ungkap Mukti.

Prilaku anaknya itu dianggapnya sebagai maling kundang. Sehingga dengan rasa sakit hati yang terlalu mendalam, ia pun mempidanakan anaknya dengan dugaan penyerobotan lahan disertai dengan dugaan perusakan pagar beserta tanaman yang ada di batas lahan SPBU miliknya.

Proses hukum perkaranya itu pun telah berjalan di Pengadilan Negeri Parepare dan saat ini sedang menanti agenda pembacaan vonis oleh Majelis Hakim tepatnya tanggal 5 November 2020 mendatang.

“Saya harap Majelis Hakim memberikan putusan yang adil dengan menempatkan posisinya sebagai orangtua seperti saya ini yang jelas-jelas tidak dihargai oleh terdakwa yang tak lain adalah anak kandung sendiri. Itu harapan saya sebagai orangtua yang terzolimi,” ungkap Mukti.

Ia mengaku sangat menyayangkan sikap Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang dianggapnya tidak memberikan rasa keadilan dan melihat lebih jauh kepentingan dirinya selaku korban sekaligus sebagai orangtua yang dizolimi oleh anak kandung sendiri.

“Tuntutan rendah Jaksa yakni hukuman percobaan 5 bulan dengan masa percobaan 10 bulan kepada terdakwa itu sangat membuat saya sakit hati. Jaksa sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan saya sebagai korban sekaligus orangtua yang tidak dihargai oleh terdakwa yang merupakan anak kandung sendiri,” ucap Mukti.

Penasehat Hukum Mukti, Korban dalam perkara dugaan perusakan tersebut, Adiatma mengatakan pihaknya akan terus berjuang tanpa lelah demi mendapatkan keadilan korban yang telah dizolimi bahkan tak lagi dihargai sebagai orangtua kandung oleh terdakwa yang merupakan anak sendiri.

“Tuntutan Jaksa sangat mencederai rasa keadilan bagi korban dan tidak sesuai dengan fakta hukum yang ada. Dimana tuntutan yang diberikan kepada terdakwa jauh dari ancaman pasal dalam dakwaan itu sendiri yakni pasal 406 KUHP dengan ancaman 2 tahun 8 bulan,” kata Adiatma.

Ia berharap Majelis Hakim nantinya memberikan putusan yang seadil-adilnya dalam perkara dugaan perusakan pagar beserta tanaman milik kliennya tersebut.

“Kami sangat berharap putusan nantinya diatas dari tuntutan Jaksa. Kami juga akan menyurat hingga Presiden agar perkara ini bisa mendapatkan perhatian luas dan korban bisa mendapatkan keadilan yang nyata,” tutupnya. (Anca)

Komentar