oleh

Majelis Hakim Tinjau Langsung Lokasi Perusakan Ruko di Jalan Buru

MAKASSAR, INIKATA.com – Sidang lanjutan dugaan perusakan rumah toko (ruko) di Jalan Buru, Kecamatan Wajo, kota Makassar yang menyeret Edy Wardus sebagai terdakwa kembali digelar, Selasa (9/2/2021). Agenda sidang kali ini, Majelis Hakim yang diketuai Basuki Wiyono melakukan peninjauan setempat (PS) atau lokasi di ruko milik korban, Irawati Lauw.

Wali Kota Dani Fatma

Dalam sidang PS itu, Majelis Hakim yang turut didampingi Jaksa Penuntut Umum (JPU), penasehat hukum terdakwa beserta korban, meninjau langsung titik di rumah korban yang diduga mengalami kerusakan.

JPU dalam perkara ini, Ridwan Saputra mengatakan, ada beberapa titik yang diperlihatkan kepada Majelis Hakim, antaranya dari depan rumah tampak bangunan baru menindih bangunan tua.

Kemudian dalam rumah yang tampak adanya keretakan bangunan tua akibat pembangunan bangunan baru. Lalu beranjak ke lantai tiga, melihat langsung kerusakan atap dan dinding, batas bangunan tua dan bangunan baru.

“Tadi Majelis Hakim kita perlihatkan titik kerusakan yang terjadi di rumah korban, mulai dari depan rumah yang tampak bangunan menindih. Kemudian meninjau retakan dinding di lantai satu dan meninjau kerusakan dinding bagian tengah dan bagian belakang bangunan yang sudah berubah bentuk,” kata Ridwan kepada awak media.

“Kemudian kami juga menunjukkan lokasi bangunan di lantai dua yang menyebabkan air merembes ketika hujan akibat adanya keretakan. Lalu berlanjut ke lantai tiga atau atap, kami juga menunjukkan atap yang mengalami kerusakan atau bocor yang diduga disebabkan oleh jatuhan materil bangunan baru,” imbuh Ridwan.

Sebagaimana diketahui pada sidang pekan lalu di Pengadilan Negeri Makassar, 3 Februari 2021, JPU menghadirkan saksi ahli konstruksi bangunan dan gempa dari Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKIP) Makassar, Dr. Junus Mara. Di sidang itu, JPU juga membacakan keterangan saksi atau buruh yang terlibat langsung dalam pembangunan ruko tersebut.

Di dalam muka persidangan, keterangan dari Junus Mara turut membuktikan adanya indikasi perusakan yang dilakukan oleh terdakwa selaku pemborong atau pengawas pengerjaan ruko di Jalan Buru.

Di mana Junus Mara menyebut, jika menilik pembangunan ruko yang dikerjakan oleh terdakwa dapat dikategorikan gagal konstruksi. Sebab, bangunan yang dikerjakan oleh terdakwa kedudukannya menindih  ruko milik orang lain, dalam hal ini pihak korban. Junus Mara  mengungkapkan, dari bangunan yang gagal konstruksi tersebut dapat  menimbulkan kerusakan parah terhadap bangunan milik korban.

“Bangunan lama itu otomatis akanmemikul beban akibat ditindih oleh bangunan baru. Itu jelas merupakan kegagalan konstruksi. Terlebih lagi, bagian dinding bangunan lama, sebelumnya juga dibetel sehingga menimbulkan pori-pori pada dinding dan ketika lama-kelamaan terkena rembesan air maka menimbulkan karbonasi atau perubahan semen menjadi kapur. Dengan begitu kekuatan dinding atau tembok bangunan akan berkurang dan lama kelamaan dapat roboh,” terang Junus dihadapan Majelis Hakim yang diketuai oleh Basuki Wiyono.

Sementara saksi lainnya, Bohari alias Boha yang keterangannya dibacakan oleh JPU, Ridwan Saputra menjelaskan, bahwa dirinya turut bekerja dalam pembangunan ruko baru di Jalan Buru pada tahun 2016.

“Saya bekerja sekitar empat bulan. Awalnya saya diterima oleh Edy Wardus selaku pengawas, saat itu saya digaji Rp90 per-hari,” ucap Boha dalam keterangannya yang dibacakan oleh JPU.

Ia mengaku pernah melakukan pembetelan tembok bangunan milik korban, Irawati Lauw, kurang lebih selama dua hari atas  perintah  Edy Wardus selaku pengawas. “Saya membetel tembok bersama-sama dengan Sabri, Muhammad Saleh dan Mustafa. Panjang tembok yang dibetel sekitar 20 meter,” jelas Boha dalam keterangannya yang dibacakan oleh JPU

Dia menerangkan jika alat yang digunakan bersama Mustafa dan Muhammad Saleh untuk membetel tembok bangunan milik korban menggunakan betel dan palu. Sedangkan alat yang digunakan Sabri  adalah mesin betel.

“Cara saya bersama Mustafa dan Muhammad Saleh berjejer dan masing – masing mengambil betel dan palu, lalu mengarahkan betel ke tembok kemudian dipukul menggunakan palu berkali-kali hingga tembok tersebut terkelupas. Sedangkan Sabri menghidupkan mesin betel,” terang Bora dalam keterangannya yang dibacakan oleh JPU.

Kemudian dia kembali menegaskan, jika pembetelan bangunan tembok milik korban atas perintah terdakwa, Edy Wardus. “Kami hanya disuruh oleh Edy Wardus, tapi saya tidak tahu siapa pemilik bangunan tembok yang dibetel,” jelas Boha dalam keterangannya yang dibacakan oleh JPU.

Menanggapi keterangan saksi Bohari yang merupakan buruh atau pekerja di ruko yang baru tersebut, terdakwa turut membenarkan. “Iya benar,” singkat Edy Wardus sambil menganggukkan kepala dalam sidang perkara pidana dugaan perusakan ruko di Jalan Buru di hadapan Majelis Hakim kala itu. (Anca)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Topik Terkait