oleh

Warga Duduki Lahan Perumahan Elit di Tamalanrea

-Hukum-108 views

MAKASSAR, INIKATA.com – Puluhan warga mengendarai mobil pikup dan kendaraan roda dua saling berboncengan mendatangi kawasan perumahan elite, Tallasa City, kota Makassar, Ahad 11 April 2021 kemarin.

Di atas mobil pikup, tampak sebuah plang papan bicara sebanyak lima buah disertai puluhan patok dari bambu berukuran sekitar 30 centimeter ikut dibawa.

Wali Kota Dani Fatma

Saat mereka tiba di kawasan perumahan elite tersebut, mereka disambut angin kencang. Bahkan dari pantauan inikata.com di lokasi, angin tersebut sempat membuat sebuah patung menyerupai bentuk manusia ikut bergetar.

Kedatangan warga di kawasan perumahan elite tersebut, mereka memasang plang papan bicara sebagai bentuk penegasan bahwa lahan tersebut adalah milik mereka dengan luas lahan tiga hektare lebih dengan pegangan dokumen rinci. Dari lahan tiga hektare lebih tersebut diklaim merupakan milik dari 28 warga.

Salah seorang warga yang dikuasakan sebagai ahli waris atas lahan itu, Sammang Daeng Ngerang (60 tahun) mengaku, bahwa lahan tersebut merupakan milik warga yang telah diwariskan turun-temurun.
Namun belakangan diklaim oleh PT Parangloe Indah dengan alas hak dokumen sertifikat.

Sammang Daeng Ngerang mengaku, sejak dirinya bersama 27 warga lainnya aktif melayangkan protes terkait lahan tersebut. Ia menyebutkan pernah dipanggil oleh pihak PT Parangloe atas nama Johannis pada tahun 2007 silam.

Dalam pertemuan tersebut, Daeng Ngerang diminta untuk menunjukkan dokumen yang dimiliki atas tanah tersebut. Lalu dia menunjukkan dokumen rinci. Atas dasar bukti tersebut, kata Daeng Ngerang, dia pernah dijanji oleh PT Parangloe untuk biaya ganti rugi, namun hingga kini belum ada kejelasan.

“Saya pernah ke Pak Johannis. Dia bilang mana buktita, saya kasih liat, inieh buktiku, saya kasih liat rinci, luasnya tanahku tiga hektare lebih. Jadi nabilang Pak Johannis, tunggumi Daeng Ngerang kita nanti dibayar, itu pada tahun 2007. Saya tunggu tunggu ini, saya hanya dijanji, saya tidak dibayar,” kata Daeng Ngerang saat ditemui di kawasan perumahan Citraland.

Menurut Daeng Ngerang, perjuangan warga untuk mengambil alih lahan tersebut sudah berlangsung selama 30 tahun. Bahkan dia pernah melaporkan kejadian itu ke Polisi pada tahun 2017, namun belum ada tindak lanjut.

“Ini saya sudah 30 tahun kejar ini tanahku. Saya juga pernah lapor ke Polisi tahun 2017, sampai sekarang tidak ada lanjutannya, ” urainya.

Dengan adanya upaya pemasangan plang papan bicara tersebut, dia merasa bersyukur dan berharap upaya tersebut sebagai jalan untuk mendapatkan haknya atas lahan yang diwariskan oleh orang tuanya.

“Saya merasa syukur ada pemasangan plang, semoga ini jalannya. Ini tanah punya datoku (kakek), ” katanya.

Sementara, Kuasa Hukum ahli Waris, Sinar Bintang Aritonang mengatakan sebelum pihaknya melakukan aksi pemasangan papan bicara tersebut, pihaknya terlebih dahulu telah melakukan surat Somasi dan Undangan kepada pihak PT. Parangloe terkait lahan tersebut.

“Kami telah melayangkan undangan ke PT Parangloe Makassar melalui surat, sebanyak 3 kali kami telah layangkan surat tapi tak di Gubris dan hari kami melakukan tapal batas oleh ahli waris. Karena ahli waris yang mengetahui batas batas lokasi yang telah ditimbun, Dan setelah batas itu dipasang maka kami akan segera memasang plang, agar lahan klien kami itu jangan dibangun dulu sebelum terjadi penyelesaian,” tuturnya.

Ia mangatakan terkait persoalan tanah itu pihak PT. Parangloe sempat berencana akan melakukan pembayaran ganti rugi terkait lahan tersebut, Namun hal tersebut disebut tak pernah terealisasi hingga saat ini.

“Tentunya kami sebagai kuasa Hukum dari ahli waris tentu kecewa dengan aparat penegak hukum, karna kasus ini pernah dilaporkan tapi tak digubris oleh aparat penegak hukum, kami berharap ada niat baik dari pihak terkait untuk menyelesaikan permasalahan lahan klien kami,” pungkasnya. (Nca)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Topik Terkait