oleh

Aktivis Dukung Penyelidikan Baru Pemberi Suap Nurdin Abdullah

-News-54 views

MAKASSAR, INIKATA.com – Sejumlah Aktivis anti Korupsi di Sulawesi Selatan rame-rame mendukung tim Komisi pemberantasan korupsi (KPK) kembali membuka penyelidikan baru terkait pemberi suap terhadap Gubernur Non aktif Sulawesi Selatan, Profesor Nurdin Abdullah.

Dimana dalam sidang pemberi suap itu yang dudukkan Agung Sucipto sebagai terdakwa menyebutkan beberapa nama lain yang diduga memberi suap pada Nurdin Abdullah sesuai nyanyian ajudan NA dan eks pejabat Kepala Pengadaan Barang dan Jasa Pemprov Sulsel, Sari Pudjiastuti.

Wali Kota Dani Fatma

Hal itupun mendapat dukungan dari Aktivis Anti Korupsi di Sulsel, salah satunya Lembaga Anti Korupsi Sulsel (Laksus) yang menyebut penyidik KPK harus melanjutkan perkara tersebut menginggat fakta-fakta persidangan menyebutkan bukan hanya satu melainkan melibatkan orang lain.

“Didalam fakta persidangan sangat jelas yang mengatakan bukan hanya 1 orang memberi, tapi ada banyak kontraktor, sehingga KPK harus melanjutkan kembali kasus ini hingga tuntas sampai pada akar – akarnya,” ucap Direktur Laksus, Muhammad Ansar saat dihubungi melalui via telepone, Minggu (13/6/2021).

Ia mengatakan Komisi Pemberantasan Korupsi bukan hanya berfokus pada terdakwa Agung Sucipto, melainkan memeriksa 4 orang kontraktor yang disebut Ajudan Nurdin Abdullah dan Sari Pudjiastuti yang disebut ikut menyerahkan sejumlah uang pada Nurdin Abdullah.

“KPK harus serius dan profesional menyerat siapa pun yang ikut terlibat dalam kasus ini serta dalam menjalanka fungsinya sebagai lembaga anti rasua,” sebutnya.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantan Korupsi, Republik Indonesia menyebutkan kemungkinan adanya penambahan tersangka baru di Kasus Suap yang menyeret Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, Edhy Rahmat serta Agung Sucipto sebagai tersangka.

Hal itu diungkapkan, JPU KPK RI Ronald Worotikan ia mengatakan (tersangka baru) memungkinkan ketika nantinya ada fakta – fakta baru yang mengarah pada keterlibatan orang lain.

“Inikan kita baru menyidangkan Part awal, nanti dari part ini ada fakta lain itu bisa saja pengembangan lain (tersangka baru),” Kata

Terkait apakah, akan dibuka penyelidikan baru nantinya mengingat dalam sidang terdakwa Agung Sucipto menyebutkan banyak orang lain yang memberikan uang pada Gubernur Sulsel, Ronald pun menyebutkan hal itu bisa saja.

“(Penyelidikan) Bisa dimungkinkan, ketika dalam sidang ini ada fakta-fakta baru,” tuturnya.

Terkait, mengelaknya Nurdin Abdullah saat bersaksi di Kasus terdakwa Agung Sucipto dimana dirinya mengatakan tak menerima dan menyuruh Sari Pudjiastuti untuk lakukan sesuai keterangan saksi Pudjiastuti pada sidang sebelumnya. Ronald menyebutkan hal itu wajar, ketika NA memberikan keterangan lain.

“Sebenarnya sah-sah saja, jika saksi katakan dia mengelak, itu suatu hal yang bisa, tentunya kan pada saat tuntutan kita melihat dari saksi saksi lain, kita belum mendegar keterangan dari saksi pak Agung pemberi uang itu, nanti semua akan terungkap,” sebutnya.

Sebelumnya, Nyanyian 2 Ajudan Gubernur Sulsel, non aktif didalam Sidang lanjutkan kasus dugaan pemberi suap perizinan dan Pembangunan Infranstruktur dilingkup Pemerintah Provinsi Sulsel tahun anggaran 2020/2021, yang dudukkan Direktur PT. Cahaya Serpong Bulukumba, Agung Sucipto sebagai terdakwa, turut menjadi perhatian dari Lembaga Anti Korupsi di Sulsel.

Dimana sebelumnya, Dihadapan persidangan Kamis 3 Juni 2021 kemarin, yang dipimpin oleh Wakil Ketua PN Makassar, Ibrahim Palino dan Hakim Anggota Yusuf Karim, Ajudan dari Gubernur Sulsel, Syamsul Bahri menyebutkan dirinya pernah menerima sejumlah uang dari 4 orang Kontraktor atas perintah Gubernur Sulsel, Prof Nurdin Abdullah.

Mereka 4 orang kontraktor yang dimaksud yakni Robert, Khaeruddin, Ferry Tandriadi serta Haji Momo.

Penerimaan pertama, Kata Syamsul itu dari Kontraktor bernama Robert pada tahun 2020 saat itu dirinya diminta Nurdin Abdullah untuk menemuai Kontraktor Robert diarea Parkir Rumah Jabatan (Rujab) Gubernur Sulsel guna mengambil titipan dari Nurdin Abdullah ditempatkan dalam Kardus.

Penerimaan kedua, dari Kontraktor Haeruddin yang diperkirakan berjumlah Rp1 Milyar dan penerimaan itu pada awal Januari 2021 dengan atas perintah dari Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah.

Penerimaan ketiga itu dari Kontraktor Veri Tandiari pada tahun 2021 dan atas perintah dari Gubernur Sulsel, pengambilan uang senilai Rp2,2 Milyar itu dilakukan dirumah Pribadi Veri Tandiari.

Pengambilan ke 4 dari Kontraktor dari H. Momo yang diduga uang disimpan dalam Amplop dan sebelumnya disebutkan oleh Eks Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Pemprov Sulsel, Sari Pujiastuti saat bersaksi disidang sebelumnya. (Nca)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Topik Terkait