oleh

Jumlah Kekerasan Anak di Sulsel Capai 251 Kasus

-Regional-52 views

MAKASSAR, INIKATA.com–Kasus kekerasan terhadap anak di Sulawesi Selatan harus menjadi perhatian semua pihak. Berdasarkan data yang diperoleh Inikata.com, jumlah kasus per Juni 2021 telah mencapai 251 kasus.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Sulsel melalui Kepala Seksi Perlindungan Khusus Anak, Andi Nurseha mengatakan dari jumlah kasus tersebut, kekerasan fisik yang paling banyak terjadi.

Wali Kota Dani Fatma

“Untuk 2021 sampai bulan Juni jumlah kasus sebanyak 251 kasus, dengan kasus tertinggi kekerasan fisik yaitu 149 kasus,” ujar Nurseha, Kamis (17/6/2021).

Kendati demikian, ia mengaku kasus kekerasan anak ini sudah terjadi penurunan dibandingkan periode Juni 2020 dengan jumlah sebanyak 433 kasus.

“Untuk sampai bulan Juni 2020 jumlah kasus sebanyak 433 kasus, tertinggi kekerasan fisik 206 kasus. Jadi tahun 2021 mengalami penurunan,” sebutnya.

Hanya saja, ia belum dapat menyebut secara detail. Akan tetapi, kata dia jumlah kasus kekerasan terhadap anak yang tertinggi di Kota Makassar. Kemudian nol kasus di daerah Kabupaten Barru, Palopo dan Pare-Pare.

“Tertinggi di makassar. Untuk yang terendah masih ada beberapa kabupaten yang masih nol yaitu Barru, palopo dan pare-pare ini tahun 2021,” imbuhnya.

Upaya untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan terhadap anak. Pengamat Pemerintahan Unhas, Sukri Tamma mengatakan jika kemudian jumlah kasus tersebut melebih apa yang ditargetkan maka tentu saja perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja yang telah dilakukan.

“Jika permasalahannya memang ada pada ranah institusi OPD bersangkutan maka tentu harus segera dilakukan pembenahan ataupun percepatan langkah-langkah strategis untuk dapat menekan jumlah angka kekerasan terhadap anak,” ucapnya.

Namun, kata dia angka tersebut tentu merupakan suatu akumulas dari berbagai hal, jadi angka kekerasan pada anak tersebut juga disumbang oleh kondisi di luar OPD bersangkutan.

“Dapat saja misalnya hal ini didorong oleh faktor lain yang justru berada dalam domain masyarakat. Jika ini yang terjadi maka, Dinas perlindungan anak Rovinsi Sulsel tentu harus melakukan upaya-upaya preventif dalam mencegah konidisi ini,” jelasnya.

Menurut dia, hal ini dapat dilakukan dengan mendorong keterlibatan berbagai pihak dari kalangan masyarakat untuk ikut terlibat dalam persoalan ini.

“Biasanya kekerasan pada anak tidak hanya terjadi pada ranah domsetik keluarga namun dapat juga terjadi di luar lingkungan keluarga,” katanya.

“Karena itu, sinergi dan keterlibatan berbagai pihak secara luas akan banyak pihak yang ikut terlibat untuk mengawasi dan mencegah sehingga diharapakan akan mempersempit potensi terjadinya tindakan kekerasan terhadap anak di sulawesi selatan,” tambahnya. (Fdl)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Topik Terkait