oleh

Ajukam Diskresi, Rangga: Saya Ingin Terpih dan Dipilih Tanpa Meninggalkan Goresan

MAKASSAR, INIKATA.com – DPD 1 Partai Golkar SulSel telah mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan musda X Golkar Takalar yang akan dihelat pekan mendatang atau tepatnya 17 Juli 2021 mendatang.

Pengumuman pendaftaran bakal calon 7 Juli, pendaftaran atau pengambilan formulir 9–10 Juli, pengembalian formulir bakal calon 11 Juli, penyerahan dukungan 12 Juli, verifikasi berkas 13 Juli, laporan hasil pendaftaran ke DPD 1 SulSel 13–14 Juli dan puncak pelaksanaan musda X tanggal 17 Juli mendatang

Wali Kota Dani Fatma

Pertarungan syarat gengsi dipastikan tersuguh secara demokratis lantaran beberapa nama dan Tokoh partai Golkar akan berburu suara untuk meraih kursi 01 Partai Golkar Takalar.

Namun, domisili yang menjadi salah satu syarat calon mendapat sorotan dari kader Golkar, Fahruddin Rangga. Ia menilai, dengan masuknya domisili sebagai syarat calon akan mempersulit sebahagian bakal calon.

“Segala persyaratan dan aturan main yang dibuat sesuai juklak dan PO partai Golkar yang sulit dipenuhi hampir semua bakal calon adalah domisili yang tentu dibuktikan dengan KTP,” ungkap Rangga, Jumat (9/7/2021).

“Sebagai contoh saya selaku anggota DPRD Sulsel yang dipersyaratkan harus berdomisili di Kota Makassar tentu ber KTP Makassar dan tidak mungkin dibolehkan memiliki 2 KTP domisili berbeda,” lanjutnya.

Sehingga kata dia, persyaratan yang tidak dapat dipenuhi harus dengan kebijakan diskresi, karena tanpa itu mustahil untuk dapat ikut berkompetisi sebagai calon.

“Karena yang saya pahami sekalipun seluruh pemilik suara memberikan dukungan tetapi salah satu syarat tidak terpenuhi akan cacat administrasi dan masuk kategori tidak memenuhi syarat,” ujarnya.

Untuk itu, agar bisa ikut berkompetisi memperebutkan kursi 01 Golkar takalar, ia mengaku harus mendapat restu dari ketua DPD I Golkar Sulsel, Taufan Pawe.

“Artinya, sebagai kader harus patuh sehingga tanpa izin dan petunjuk dari pak ketua DPD I Golkar Sulsel ndak akan mungkin saya melangkah jauh, sehingga saya pada posisi wait and see (tunggu dan lihat),” tuturnya.

Ia mengaku, pada musda kali ini Rangga tidak ingin meninggalkan goresan yang cacat karena menggar aturan.

“Pengabdian di partai yang membesarkan saya tidak mesti harus jadi ketua kan, tetapi partai ini kami sangat jaga dari tangan orang orang yang akan merusak citra dan marwah partai yang amat saya cintai. Oleh karenanya saya ingin terpilih dan dipilih tanpa meninggalkan goresan cacat apalagi melanggar aturan organisasi, karena selaku kader harus senantiasa menjunjung tinggi dan menghormati aturan organisasi,” tutupnya.(**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Topik Terkait